Salah satu poin yang paling menyita perhatian publik adalah besarnya dana yang harus dikeluarkan Starbucks untuk menjalankan strategi ini. Perusahaan diperkirakan akan merogoh kocek hingga Rp 5,3 triliun (sekitar miliaran dolar AS) untuk menutupi biaya-biaya yang muncul akibat penutupan dan restrukturisasi tersebut.
Pengeluaran jumbo ini tidak hanya digunakan untuk sekadar mengunci pintu gerai, melainkan mencakup berbagai komponen biaya yang kompleks, seperti:
Biaya Pemutusan Kontrak Sewa: Menutup gerai sebelum masa kontrak berakhir mengharuskan perusahaan membayar penalti atau biaya kompensasi kepada pemilik properti.
Pesangon Karyawan: Sebagian besar dana dialokasikan untuk memenuhi kewajiban pembayaran pesangon bagi para pekerja yang terdampak secara langsung.
Biaya Restrukturisasi Organisasi: Perubahan struktur manajemen dan sistem operasional di tingkat regional maupun nasional memerlukan investasi besar.
Penyesuaian Infrastruktur Digital: Pengalihan fokus ke layanan digital memerlukan biaya pengembangan teknologi agar lebih efisien di lokasi-lokasi yang masih beroperasi.
Para analis ekonomi menilai bahwa meskipun angka Rp 5,3 triliun ini terlihat sangat besar, hal ini dipandang sebagai "biaya investasi" untuk menyelamatkan kesehatan jangka panjang perusahaan. Jika Starbucks tidak segera melakukan efisiensi, risiko kerugian yang lebih besar akibat operasional yang tidak efisien dapat mengancam stabilitas perusahaan secara keseluruhan.
Bayang-bayang PHK Massal bagi Karyawan
Di balik angka-angka pertumbuhan dan strategi bisnis, terdapat isu kemanusiaan yang sangat krusial: ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Penutupan 250 gerai secara otomatis akan berdampak langsung pada ribuan barista, manajer toko, dan staf pendukung lainnya.
Meskipun Starbucks menyatakan akan berusaha meminimalkan dampak negatif bagi para karyawannya, spekulasi mengenai gelombang PHK besar-besaran tidak dapat dihindari. Isu kesejahteraan karyawan telah menjadi topik sensitif bagi Starbucks dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait dengan gerakan serikat pekerja (unionization) di berbagai gerai mereka di Amerika Serikat.
Ketidakpastian ini menciptakan atmosfer kerja yang tegang. Para pekerja kini dihantui oleh kekhawatiran akan kehilangan mata pencaharian, sementara perusahaan berusaha keras meyakinkan publik bahwa langkah ini adalah demi kelangsungan hidup korporasi. Jika tidak dikelola dengan komunikasi yang transparan, kebijakan ini berisiko merusak reputasi Starbucks sebagai salah satu pemberi kerja terbesar di sektor ritel.
Dampak Domino terhadap Industri Kopi Global