Faktor kedua yang tidak kalah krusial adalah sikap tegas dari OPEC+. Di tengah fluktuasi ekonomi global yang tidak menentu, aliansi negara-negara pengekspor minyak ini tampaknya tidak ingin mengambil risiko dengan membanjiri pasar dengan pasokan berlebih.
Pernyataan dari beberapa petinggi negara anggota OPEC+ mengisyaratkan bahwa mereka siap untuk mempertahankan kebijakan pemangkasan produksi atau setidaknya menahan laju peningkatan produksi dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Langkah ini merupakan strategi klasik namun efektif untuk menjaga agar harga minyak tidak jatuh ke level yang dapat merugikan anggaran negara-negara produsen.
Kebijakan OPEC+ ini memberikan kepastian kepada pasar mengenai sisi penawaran (supply). Dengan adanya kendali produksi yang ketat, risiko terjadinya surplus minyak dunia dapat ditekan seminimal mungkin. Para pelaku pasar kini melihat bahwa sisi penawaran akan tetap terkendali, yang secara langsung memberikan dukungan kuat bagi kenaikan harga minyak mentah jenis Brent maupun West Texas Intermediate (WTI).
Faktor-Faktor Utama Pendorong Kenaikan Harga Minyak
Untuk memahami mengapa harga minyak bisa melonjak secara tiba-tiba hingga 4 persen, kita perlu membedah beberapa variabel kunci yang saling berkaitan:
Penyusutan Inventori AS: Berkurangnya cadangan minyak mentah secara tak terduga di Amerika Serikat menciptakan ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran.
Disiplin Produksi OPEC+: Komitmen untuk tidak menambah produksi secara agresif memastikan pasokan global tetap ketat.
Sentimen Rebound Teknis: Setelah penurunan tajam sebelumnya, harga berada di zona beli yang menarik bagi para spekulan dan investor jangka pendek.
Ketidakpastian Geopolitik: Meskipun tidak disebutkan secara eksplisit, ketegangan di kawasan penghasil minyak seringkali menjadi latar belakang yang membuat pasar tetap waspada terhadap gangguan pasokan.