Pemetaan Wilayah Terdampak: Melakukan identifikasi cepat terhadap daerah-daerah dengan tingkat kerusakan tertinggi untuk menentukan prioritas pengiriman logistik.
Optimalisasi Jalur Laut dan Darat: Memanfaatkan armada kapal pengangkut logistik serta armada darat untuk menjangkau desa-desa terpencil yang sulit diakses.
Kolaborasi Lintas Sektor: Melibatkan TNI, Polri, dan relawan lokal untuk membantu proses pengantaran bantuan hingga ke posko-posko pengungsian terkecil.
Monitoring Stok di Tingkat Lokal: Memastikan gudang-gudang Bulog di tingkat kabupaten memiliki cadangan yang cukup untuk kebutuhan jangka pendek.
Mitigasi Krisis Pangan dan Stabilitas Harga Pasar
Selain untuk membantu korban gempa, keberadaan stok beras sebesar 39.000 ton ini juga berfungsi sebagai instrumen pengendalian inflasi di NTT. Dalam situasi bencana, seringkali terjadi ketidakpastian pasar yang dapat memicu spekulasi harga oleh oknum tidak bertanggung jawab. Ketersediaan stok yang melimpah diharapkan mampu menekan kekhawatiran masyarakat dan menjaga harga beras tetap stabil di pasar tradisional maupun modern.
Pemerintah menegaskan bahwa tidak boleh ada upaya penimbunan barang di tengah situasi darurat ini. Pengawasan ketat terhadap peredaran beras di pasar-pasar akan terus dilakukan untuk memastikan bahwa masyarakat tidak terbebani oleh kenaikan harga yang tidak wajar akibat dampak psikologis pasca-gempa.
Langkah preventif ini juga mencakup penyediaan informasi yang transparan kepada publik mengenai jumlah stok yang tersedia. Dengan adanya keterbukaan informasi, masyarakat dapat merasa lebih tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan belanja (*panic buying*) yang justru dapat memperburuk situasi logistik.