DWJ Manajement - PORTAL

Studi: Cuaca Makin Panas, Pendapatan UMKM Indonesia Merosot

Oleh: DWJ-Manajement • 02 Oct 2026
Studi: Cuaca Makin Panas, Pendapatan UMKM Indonesia Merosot

```html

Studi UGM: Cuaca Makin Panas, Pendapatan UMKM Indonesia Merosot Hingga 14 Persen

Ancaman Krisis Iklim Bukan Sekadar Masalah Lingkungan, Tapi Juga Beban Ekonomi Nyata bagi Pelaku Usaha Kecil.

Fenomena kenaikan suhu global yang kian terasa di Indonesia kini bukan lagi sekadar isu lingkungan hidup yang diperdebatkan di meja diplomasi internasional. Dampaknya telah merambah jauh ke sektor ekonomi paling fundamental di tanah air, yakni Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Sebuah studi terbaru yang dirilis oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan temuan yang mengkhawatirkan. Perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem dan suhu panas yang meningkat secara signifikan telah berkontribusi pada penurunan pendapatan pelaku UMKM di Indonesia. Berdasarkan data penelitian tersebut, rata-rata omzet atau pendapatan harian para pelaku usaha kecil mengalami penyusutan hingga mencapai angka 14 persen.

Angka ini bukan sekadar statistik belaka. Bagi pelaku UMKM yang umumnya beroperasi dengan margin keuntungan yang tipis, penurunan pendapatan sebesar 14 persen dapat menjadi penentu antara keberlangsungan usaha atau kebangkrutan. Krisis iklim kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi akar rumput di Indonesia.

Dampak Nyata Perubahan Iklim Terhadap Ekonomi Rakyat

Selama ini, kebijakan mitigasi perubahan iklim sering kali berfokus pada sektor industri besar, energi, dan kehutanan. Namun, studi UGM ini memberikan perspektang baru bahwa kelompok yang paling rentan justru adalah pelaku usaha skala mikro yang tidak memiliki bantalan finansial yang kuat untuk menghadapi fluktuasi lingkungan.

Kenaikan suhu udara yang ekstrem mengubah pola interaksi manusia, pola konsumsi, hingga biaya operasional harian. Hal ini menciptakan efek domino yang merugikan bagi ekosistem UMKM di seluruh pelosok negeri. Beberapa faktor utama yang diidentifikasi dalam studi tersebut mencakup perubahan perilaku konsumen hingga gangguan pada rantai pasok bahan baku.

Perubahan Pola Konsumsi dan Mobilitas Masyarakat

Salah satu alasan utama merosotnya pendapatan UMKM adalah perubahan pola mobilitas masyarakat. Suhu udara yang sangat panas membuat orang cenderung enggan melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama pada jam-jam puncak panas di siang hari.

Bagi pelaku UMKM yang mengandalkan "pedestrian economy" atau ekonomi pejalan kaki—seperti pedagang kaki lima, warung kelontong pinggir jalan, atau kios kecil di pasar tradisional—hal ini merupakan pukulan telak. Berkurangnya jumlah orang yang keluar rumah secara langsung menurunkan jumlah calon pembeli potensial yang melintasi lokasi usaha mereka.

Selain itu, perubahan preferensi konsumsi juga terjadi. Suhu panas yang ekstrem mengubah jenis produk yang dicari masyarakat. Pelaku usaha yang menjual produk yang kurang relevan dengan kondisi cuaca panas, seperti makanan berat yang bersifat panas atau produk pakaian berbahan tebal, harus menghadapi penurunan permintaan yang drastis.

Lonjakan Biaya Operasional yang Tak Terhindarkan

Selain penurunan pendapatan dari sisi penjualan, sisi pengeluaran atau biaya operasional UMKM juga mengalami tekanan akibat cuaca panas. Fenomena ini sering kali tidak disadari namun berdampak besar pada laba bersih.