DWJ Manajement - PORTAL

Studi: Cuaca Makin Panas, Pendapatan UMKM Indonesia Merosot

Oleh: DWJ-Manajement • 02 Oct 2026
Studi: Cuaca Makin Panas, Pendapatan UMKM Indonesia Merosot

Biaya Energi: Pelaku usaha yang memiliki ruang fisik seperti kafe kecil atau toko ritel terpaksa meningkatkan penggunaan alat pendingin ruangan (AC) atau kipas angin untuk menjaga kenyamanan pelanggan. Hal ini berdampak langsung pada lonjakan tagihan listrik bulanan.

Risiko Kerusakan Barang: Untuk UMKM di sektor makanan dan minuman (F&B), suhu panas meningkatkan risiko kerusakan bahan baku. Produk segar seperti sayuran, buah-buahan, daging, dan produk olahan susu menjadi lebih cepat basi atau rusak jika tidak disimpan dengan sistem pendinginan yang mumpuni.

Biaya Logistik: Cuaca ekstrem juga dapat mengganggu jalur distribusi, yang pada akhirnya meningkatkan biaya transportasi dan pengiriman barang ke tempat usaha.

Gangguan Rantai Pasok dan Inflasi Bahan Baku

Krisis iklim juga menyerang hulu dari rantai ekonomi UMKM, yaitu sektor pertanian dan perikanan. Cuaca panas yang berkepanjangan dan pola hujan yang tidak menentu menyebabkan kegagalan panen di berbagai daerah. Ketika pasokan bahan baku di pasar berkurang, harga komoditas akan melonjak naik.

Pelaku UMKM berada dalam posisi yang sulit: mereka harus memilih antara menaikkan harga jual produk (yang berisiko membuat pelanggan lari) atau tetap menggunakan harga lama namun harus menanggung kenaikan biaya bahan baku yang menggerus margin keuntungan mereka. Kondisi inilah yang memperparah penurunan pendapatan bersih yang dilaporkan dalam studi UGM tersebut.

Sektor-Sektor yang Paling Rentan Terdampak

Meskipun dampak perubahan iklim dirasakan secara luas, penelitian tersebut menunjukkan bahwa beberapa sektor UMKM memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan sektor lainnya. Berikut adalah beberapa sektor yang paling terdampak oleh kenaikan suhu:

Sektor Kuliner (F&B): Selain masalah kerusakan bahan baku, sektor ini sangat bergantung pada kestabilan harga komoditas pangan yang sangat sensitif terhadap perubahan cuaca.

Sektor Perdagangan Eceran (Ritel): Warung-warung kecil dan toko kelontong yang mengandalkan kunjungan langsung pelanggan secara fisik mengalami penurunan trafik yang signifikan akibat cuaca panas.

Sektor Fashion dan Tekstil: Pergeseran musim dan suhu yang lebih panas mengubah tren permintaan material pakaian, yang dapat merugikan pengusaha konveksi skala kecil jika tidak cepat beradaptasi.

Sektor Pertanian dan Pengolahan Hasil Tani: UMKM yang bergerak di bidang pengolahan hasil bumi sangat bergantung pada stabilitas iklim untuk menjamin ketersediaan input produksi mereka.