Daya Beli Masyarakat sebagai Penopang Utama
Salah satu alasan mengapa pertumbuhan ini bisa mencapai angka 5,45 persen adalah karena ketahanan daya beli masyarakat. Pemerintah telah melakukan berbagai intervensi kebijakan, mulai dari pemberian bantuan sosial hingga kebijakan insentif pajak, untuk memastikan bahwa kelas menengah dan kelompok rentan tetap memiliki kapasitas untuk berbelanja. Hal ini sangat krusial karena ketika konsumsi masyarakat melambat, pertumbuhan ekonomi akan sulit untuk melampaui angka 5 persen.
Inflasi Terkendali: Kunci Menjaga Daya Beli
Selain pertumbuhan yang impresif, indikator lain yang menjadi sorotan adalah tingkat inflasi. Suahasil Nazara menekankan bahwa inflasi Indonesia saat ini berada di angka 3,19 persen. Angka ini dinilai sangat ideal karena berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan oleh pemerintah dan Bank Indonesia.
Inflasi yang rendah dan stabil sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat. Jika inflasi melonjak terlalu tinggi, maka nilai riil pendapatan masyarakat akan tergerus, yang pada akhirnya akan memicu penurunan konsumsi dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Dengan inflasi di level 3,19 persen, harga-harga kebutuhan pokok relatif stabil, sehingga masyarakat dapat merencanakan pengeluaran dengan lebih pasti.
Beberapa langkah strategias yang telah diambil untuk menjaga inflasi tetap di angka tersebut antara lain:
Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Daerah (TPID): Kerja sama lintas sektor untuk memastikan pasokan pangan dan energi tersedia dengan harga terjangkau.
Kebijakan Moneter yang Akomodatif: Sinergi antara kebijakan fiskal Kementerian Keuangan dan kebijakan moneter Bank Indonesia dalam mengelola likuiditas dan suku bunga.
Pengawasan Distribusi Barang: Memastikan tidak ada gangguan pada rantai pasok yang dapat memicu kenaikan harga mendadak di tingkat konsumen.
Efek Psikologis Stabilitas Harga
Stabilitas harga memberikan rasa aman bagi pelaku usaha untuk melakukan ekspansi. Ketika inflasi terprediksi, perusahaan lebih berani melakukan investasi jangka panjang, melakukan rekrutmen tenaga kerja baru, dan meningkatkan kapasitas produksi. Kondisi inilah yang kemudian menciptakan lingkaran setan positif (*virtuous cycle*) yang mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.