DWJ Manajement - PORTAL

Tabungan Menipis, Warga RI Andalkan Kartu Kredit-Paylater Buat Belanja

Oleh: DWJ-Manajement 28 Jul 2026
Tabungan Menipis, Warga RI Andalkan Kartu Kredit-Paylater Buat Belanja

Tanpa Agunan: Sebagian besar layanan paylater tidak memerlukan jaminan aset, sehingga siapa pun bisa mengaksesnya dengan cepat.

Integrasi Ekosistem Digital: Fitur pembayaran ini sudah menyatu dalam aplikasi belanja harian, membuat pengguna sering kali tidak sadar bahwa mereka sedang berutang.

Psikologi "Beli Sekarang, Bayar Nanti": Memberikan ilusi kemampuan finansial yang lebih besar dari yang sebenarnya dimiliki.

Dampak Tersembunyi di Balik Kemudahan Kredit Digital

Meskipun terlihat sebagai solusi atas masalah kekurangan uang tunai, ketergantungan pada utang konsumtif untuk kebutuhan pokok adalah alarm bahaya bagi ekonomi rumah tangga. Ada konsekuensi domino yang harus dihadapi jika pola ini terus berlanjut tanpa kontrol.

Ancaman Jebakan Utang (Debt Trap)

Salah satu risiko terbesar adalah terjebak dalam siklus "gali lubang tutup lubang". Karena digunakan untuk kebutuhan pokok yang sifatnya berulang (seperti makan dan listrik), maka tagihan akan terus muncul setiap bulan. Jika pendapatan tidak segera naik, masyarakat akan cenderung mengambil pinjaman baru untuk membayar pinjaman lama. Hal ini akan menciptakan spiral utang yang semakin lama semakin besar dan sulit diputus.

Tekanan Psikologis dan Skor Kredit

Selain masalah finansial, beban utang yang menumpuk juga berdampak langsung pada kesehatan mental. Kecemasan akan tagihan yang jatuh tempo dapat memicu stres kronis dalam keluarga. Di sisi lain, kegagalan dalam membayar cicilan akan merusak skor kredit individu di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Dampaknya, di masa depan, masyarakat akan kesulitan mendapatkan akses kredit yang lebih produktif, seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau modal usaha.

Faktor Pendorong Utama: Inflasi dan Stagnasi Pendapatan

Mengapa tabungan masyarakat bisa menipis hingga ke tahap harus berutang untuk makan? Analis ekonomi melihat adanya ketidakseimbangan antara laju kenaikan harga barang dengan pertumbuhan pendapatan riil masyarakat. Inflasi pada sektor pangan sering kali melampaui kenaikan upah minimum tahunan.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya literasi keuangan. Banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan antara utang produktif (untuk modal usaha) dan utang konsumtif (untuk konsumsi). Ketika uang tunai tidak lagi cukup, mereka langsung beralih ke instrumen kredit tanpa menghitung bunga dan biaya administrasi yang sering kali sangat tinggi pada layanan pinjaman digital.