Ada beberapa faktor utama yang menjadi pertimbangan dalam pengkajian tarif baru tersebut, antara lain:
Biaya Operasional dan Pemeliharaan: Seiring bertambahnya jarak tempuh dan kompleksitas infrastruktur, biaya perawatan sarana dan prasarana tentu akan meningkat.
Keseimbangan Subsidi: Pemerintah perlu memastikan bahwa tarif yang dibayar masyarakat tetap terjangkau, namun juga harus mempertimbangkan besaran subsidi agar tidak membebani APBD secara berlebihan dalam jangka panjang.
Volume Penumpang: Tingkat okupansi atau jumlah penumpang yang meningkat akan memengaruhi perhitungan ekonomi dari layanan LRT ini.
Kualitas Layanan: Tarif baru diharapkan mampu menjamin keberlanjutan layanan yang prima, mulai dari ketepatan waktu hingga kebersihan armada.
Dampak Positif Perluasan Jalur LRT bagi Masyarakat Urban
Kehadiran LRT dengan tarif terjangkau hingga tahun 2026 memberikan dampak domino yang positif bagi kehidupan masyarakat urban di Jakarta. Selain faktor ekonomi, terdapat beberapa manfaat signifikan lainnya yang akan dirasakan oleh warga.
Pertama adalah penghematan waktu. Dalam dunia metropolitan yang serba cepat, waktu adalah aset yang sangat berharga. Dengan jalur kereta yang memiliki jalur khusus tanpa terganggu kemacetan jalan raya, pengguna LRT dapat memprediksi waktu tiba mereka dengan lebih akurat dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi berbasis jalan raya lainnya.
Kedua, pengurangan polusi udara. Dengan beralihnya pengguna kendaraan pribadi ke transportasi massal seperti LRT, jumlah emisi karbon di jalanan Jakarta dipastikan akan berkurang. Ini sejalan dengan komitmen global untuk menciptakan kota yang lebih hijau dan layak huni (livable city).
Ketiga, peningkatan produktivitas. Perjalanan yang nyaman dan terhindar dari stres akibat kemacetan memungkinkan para komuter untuk beristirahat sejenak atau bahkan melakukan aktivitas ringan selama perjalanan, sehingga mereka tiba di tujuan dalam kondisi yang lebih siap untuk bekerja.