Praktik korupsi dan gratifikasi dalam program seperti MBG bukan sekadar masalah kehilangan uang negara. Dampak paling mengerikan dari penyimpangan ini adalah pada kualitas nutrisi yang diterima oleh anak-anak sekolah. Ketika sebagian anggaran yang seharusnya digunakan untuk membeli bahan makanan berkualitas tinggi (seperti protein hewani, sayuran segar, dan buah-buahan) justru habis untuk "menyuap" oknum, maka standar gizi akan turun secara drastis.
Berikut adalah beberapa risiko utama yang muncul akibat praktik jual beli lokasi ini:
Penurunan Kualitas Bahan Baku: Vendor yang memenangkan lokasi melalui jalur "belakang" kemungkinan besar akan melakukan penghematan biaya di sisi bahan makanan untuk menutupi biaya suap yang telah mereka keluarkan.
Ketidaksesuaian Standar Sanitasi: Lokasi yang dipilih berdasarkan uang, bukan kualitas, berisiko tidak memenuhi standar kesehatan, yang dapat menyebabkan keracunan massal pada siswa.
Distribusi yang Tidak Efisien: Lokasi yang tidak strategis akan memperlama waktu perjalanan makanan, sehingga makanan sampai ke sekolah dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Ketimpangan Akses: Wilayah-wilayah yang tidak memiliki "koneksi" dengan oknum penyimpang berisiko tidak mendapatkan layanan MBG secara optimal.
Langkah Tegas Sudaryono: Pembersihan Internal Badan Gizi Nasional
Menanggapi temuan yang sangat memprihatinkan ini, Kepala BGN Sudaryono menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberikan toleransi sedikit pun terhadap segala bentuk penyimpangan. Ia berkomitmen untuk melakukan pembersihan total di lingkungan Badan Gizi Nasional guna mengembalikan marwah lembaga tersebut.
Sudaryono menyatakan bahwa investigasi internal sedang dilakukan untuk memetakan sejauh mana penyimpangan ini telah terjadi dan siapa saja aktor intelektual di baliknya. Ia juga membuka pintu seluas-luasnya bagi pihak penegak hukum untuk masuk dan menindaklanjuti temuan ini secara pidana jika terbukti ada unsur korupsi.