DWJ Manajement - PORTAL

Ternak Rekening, Pelaku Judol Imingi Rp100 Ribu ke Petani Hingga IRT

Oleh: DWJ-Manajement 16 Jul 2026
Ternak Rekening, Pelaku Judol Imingi Rp100 Ribu ke Petani Hingga IRT

Waspada Modus 'Ternak Rekening' Judi Online: Petani dan IRT Jadi Sasaran Iming-iming Rp100 Ribu

JAKARTA - Ancaman kejahatan siber di Indonesia kini tidak hanya menyasar data pribadi atau penipuan daring semata, namun telah merambah ke praktik manipulasi identitas keuangan yang sangat berbahaya. Sindikat judi online kini dilaporkan telah mengembangkan modus operandi baru yang sangat licik, yakni dengan melakukan "ternak rekening" menggunakan nama warga negara Indonesia yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai bagaimana para pelaku judi online mencari celah untuk melancarkan transaksi ilegal mereka. Bukan melalui peretasan sistem perbankan yang rumit, melainkan dengan mengeksploitasi kerentanan ekonomi masyarakat melalui pemberian iming-iming uang tunai dalam jumlah kecil.

Modus Operandi 'Ternak Rekening': Mengeksploitasi Masyarakat Rentan

Dalam keterangannya, Meutya Hafid menjelaskan bahwa sindikat judi online secara sistematis mencari orang-orang yang tidak memiliki literasi keuangan yang kuat atau mereka yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Kelompok yang paling sering menjadi sasaran adalah para petani, buruh, hingga Ibu Rumah Tangga (IRT).

Modus yang digunakan tergolong sangat sederhana namun sangat efektif secara psikologis. Para pelaku atau perantara akan mendatangi masyarakat dan menawarkan sejumlah uang, misalnya Rp100.000, hanya untuk meminta bantuan membuka rekening bank baru. Setelah rekening tersebut aktif, pelaku akan meminta buku tabungan, kartu ATM, hingga akses mobile banking dari pemilik rekening tersebut.

Rekening-rekening yang terkumpul inilah yang kemudian disebut sebagai "rekening ternak". Rekening ini digunakan oleh sindikat sebagai alat untuk menampung uang hasil perjudian, melakukan transaksi pembayaran ke bandar, hingga mencuci uang (money laundering) agar jejak aliran dana tidak langsung mengarah kepada pelaku utama.

Mengapa Petani dan Ibu Rumah Tangga Menjadi Target?

Para pelaku judi online sangat memahami profil target mereka. Ada beberapa alasan mengapa sektor masyarakat ini dipilih sebagai sasaran empuk:

Kerentanan Ekonomi: Bagi seorang petani atau IRT yang sedang kesulitan keuangan, uang Rp100.000 adalah nominal yang cukup menggoda untuk ditukarkan dengan sebuah rekening bank yang mereka sendiri mungkin tidak paham risiko hukumnya.

Rendahnya Literasi Digital dan Keuangan: Banyak dari target ini tidak menyadari bahwa memberikan akses perbankan kepada orang lain adalah tindakan ilegal yang dapat menyeret mereka ke ranah pidana.

Kurangnya Akses Informasi: Kelompok ini seringkali tidak terpapar secara intensif oleh kampanye keamanan siber atau peringatan mengenai bahaya pencucian uang.