DWJ Manajement - PORTAL

Ternyata Astronaut Sering Sembelit di Luar Angkasa, Ini Alasannya

Oleh: DWJ-Manajement 24 Aug 2026
Ternyata Astronaut Sering Sembelit di Luar Angkasa, Ini Alasannya

Misteri Pencernaan di Antariksa: Mengapa Astronaut Sering Mengalami Sembelit? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Eksplorasi luar angkasa selalu identik dengan kemegahan teknologi, penemuan ilmiah yang revolusioner, dan keberanian manusia menembus batas cakrawala. Namun, di balik gemerlap misi menuju Mars atau kehidupan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), tersimpan realita medis yang jauh dari kata glamor. Salah satu masalah kesehatan yang sering kali luput dari sorotan kamera publik, namun menjadi beban nyata bagi para penjelajah antariksa, adalah gangguan sistem pencernaan, khususnya sembelit atau konstipasi.

Bagi masyarakat di Bumi, sembelit mungkin dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan yang bisa diatasi dengan minum air lebih banyak atau mengonsumsi serat. Namun, dalam kondisi mikrogravitasi di luar angkasa, masalah ini bisa berkembang menjadi kondisi medis yang serius dan mengganggu efektivitas misi. Sejumlah pakar kesehatan antariksa mulai mengungkap alasan kompleks mengapa tubuh manusia mengalami perubahan drastis saat berada jauh dari gravitasi Bumi.

Peran Mikrogravitasi terhadap Mekanisme Tubuh

Alasan utama yang paling mendasar adalah hilangnya efek gravitasi yang kita rasakan sehari-hari. Di Bumi, gravitasi membantu proses fisik dalam tubuh, termasuk membantu pergerakan makanan melalui saluran pencernaan. Saat memasuki kondisi mikrogravitasi, mekanisme alami ini mengalami gangguan signifikan.

Gangguan Peristaltik Usus

Proses pencernaan manusia sangat bergantung pada gerakan otot polos yang disebut peristaltik. Peristaltik adalah gerakan meremas-remas yang mendorong makanan dan sisa-sisa makanan bergerak dari kerongkongan, lambung, hingga ke usus besar dan akhirnya dikeluarkan. Di luar angkasa, ketiadaan gravitasi mengubah cara cairan dan massa padat bergerak di dalam rongga perut.

Para ahli menjelaskan bahwa tanpa tarikan gravitasi yang konsisten, koordinasi otot-otot pencernaan dapat menjadi kurang efisien. Meskipun otot usus tetap bekerja, ritme dan kekuatan kontraksi tersebut mengalami penyesuaian yang tidak selalu sinkron dengan kebutuhan tubuh, sehingga proses pembuangan sisa makanan menjadi lebih lambat dari biasanya.

Pergeseran Cairan Tubuh (Fluid Shift)