DWJ Manajement - PORTAL

Terungkap Biang Kerok Desil Tak Sesuai Kondisi Warga RI

Oleh: DWJ-Manajement 05 Sep 2026
Terungkap Biang Kerok Desil Tak Sesuai Kondisi Warga RI

```html

Dilema Bansos: Terungkap Biang Kerok Mengapa Data Desil Tak Sesuai Kondisi Riil Warga RI

Ketidakakuratan pengelompokan kesejahteraan masyarakat dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) memicu polemik besar mengenai distribusi bantuan sosial di Indonesia.

Persoalan akurasi data kemiskinan di Indonesia seolah menjadi lingkaran setan yang tak kunjung usai. Meski pemerintah terus berupaya melakukan transformasi digital melalui berbagai basis data, realita di lapangan menunjukkan pemandangan yang kontras. Fenomena di mana warga yang secara ekonomi sangat kesulitan justru tidak terdaftar sebagai penerima bantuan, sementara kelompok yang relatif mampu justru masuk dalam kategori layak bantu, kini menjadi sorotan tajam.

Salah satu pemicu utama kegaduhan ini adalah ketidaksesuaian pengelompokan "Desil" dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Desil, yang merupakan pengelompokan tingkat kesejahteraan masyarakat ke dalam sepuluh skala, dianggap gagal merepresentasikan kondisi ekonomi riil warga di berbagai daerah. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: apa sebenarnya biang kerok di balik malfungsi data ini?

Mengenal Sistem Desil dalam Pendataan Kesejahteraan

Sebelum membedah masalahnya, penting untuk memahami apa yang dimaksud dengan desil dalam konteks kebijakan sosial. Dalam sistem pengelompokan ekonomi, masyarakat dibagi menjadi sepuluh kelompok atau desil berdasarkan tingkat pendapatan atau pengeluaran mereka.

Secara teori, pembagiannya adalah sebagai berikut:

Desil 1: Kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah (paling miskin).

Desil 2 hingga 4: Kelompok masyarakat rentan yang membutuhkan perlindungan sosial.

Desil 5 hingga 8: Kelompok masyarakat kelas menengah.

Desil 9 dan 10: Kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan tertinggi (paling mampu).