Program Sosial dan Infrastruktur: Komitmen pemerintah terhadap program jaminan sosial dan proyek pembangunan infrastruktur nasional juga menyerap porsi APBN yang sangat besar.
Dampak Domino terhadap Suku Bunga dan Inflasi
Meningkatnya utang pemerintah memiliki korelasi langsung dengan kebijakan moneter. Ketika pemerintah harus meminjam lebih banyak uang untuk menutupi defisit, mereka harus menerbitkan lebih banyak surat utang (Treasury bonds). Tingginya suplai surat utang ini dapat memengaruhi imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.
Jika yield obligasi naik, maka biaya pinjaman bagi sektor swasta, termasuk korporasi dan rumah tangga, juga akan ikut naik. Hal ini pada gilirannya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi karena biaya modal yang menjadi lebih mahal. Selain itu, tekanan pada anggaran pemerintah untuk membayar bunga utang dapat memaksa pemerintah mengambil langkah-langkah fiskal yang tidak populer, seperti kenaikan pajak atau pemotongan belanja publik.
Risiko Terhadap Stabilitas Ekonomi Global
Dunia tidak bisa menutup mata terhadap kondisi keuangan Amerika Serikat. Mengapa? Karena dolar AS masih memegang peran sebagai mata uang cadangan utama dunia (reserve currency) dan merupakan instrumen utama dalam perdagangan internasional.
Apabila kepercayaan investor terhadap kemampuan Amerika Serikat untuk melunasi kewajibannya menurun, maka akan terjadi guncangan hebat di pasar keuangan global. Berikut adalah beberapa potensi risiko yang perlu diwaspadai oleh negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia:
Volatilitas Nilai Tukar: Ketidakpastian ekonomi di AS dapat memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman (safe haven), atau sebaliknya, memicu volatilitas ekstrem pada nilai tukar dolar terhadap mata uang lainnya.
Ketidakpastian Pasar Obligasi: Mengingat obligasi AS sering dianggap sebagai aset bebas risiko (risk-free asset), fluktuasi pada pasar utang AS akan langsung merambat ke pasar obligasi negara lain.
Gangguan Perdagangan Internasional: Jika ekonomi AS melambat akibat beban utang yang terlalu berat, permintaan terhadap barang dan jasa dari negara mitra dagang (ekspor) juga berpotensi menurun.