DWJ Manajement - PORTAL

Video: Asumsi Makro RAPBN 2027, Apa Efeknya ke IHSG dan Rupiah?

Oleh: DWJ-Manajement 21 Aug 2026
Video: Asumsi Makro RAPBN 2027, Apa Efeknya ke IHSG dan Rupiah?

Dampak Terhadap IHSG: Antara Optimisme dan Volatilitas

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah representasi dari performa emiten di pasar modal. Dampak dari asumsi makro RAPBN 2027 terhadap IHSG dapat dilihat dari dua sisi yang saling berlawanan.

Skenario Optimis: Penguatan Indeks

Jika pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang moderat namun realistis, didukung dengan proyeksi inflasi yang rendah, maka IHSG berpotensi besar mengalami tren penguatan. Pertumbuhan ekonomi yang stabil memberikan kepercayaan diri bagi sektor konsumsi, perbankan, dan infrastruktur untuk berekspansi. Ketika profitabilitas emiten meningkat, daya tarik saham Indonesia di mata global akan naik, yang kemudian memicu aliran modal masuk (capital inflow). Aliran dana asing ini akan mendorong kenaikan harga saham secara masif di bursa.

Skenario Pesimis: Tekanan Jual

Di sisi lain, jika asumsi makro menunjukkan adanya risiko kenaikan harga komoditas energi yang tinggi atau pelemahan nilai tukar yang signifikan, pasar mungkin akan bereaksi negatif. Ketidakpastian pada variabel-variabel tersebut dapat memicu aksi ambil untung (profit taking) oleh investor asing. Selain itu, jika asumsi defisit anggaran dianggap membengkak, investor akan mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga yang dapat menekan sektor-sektor sensitif seperti properti dan teknologi, yang pada akhirnya akan menekan IHSG.

Rupiah dalam Cengkeraman Kebijakan Fiskal dan Moneter

Nilai tukar Rupiah selalu menjadi variabel yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan pemerintah. Dalam konteks RAPBN 2027, pergerakan Rupiah akan sangat bergantung pada bagaimana pemerintah mengelola selisih antara pendapatan negara dan belanja negara.

Salah satu faktor penentu adalah asumsi nilai tukar dalam RAPBN itu sendiri. Jika pemerintah menetapkan asumsi Rupiah yang terlalu kuat (apresiasi) sementara kondisi global sedang tidak menentu, hal ini dapat menciptakan celah volatilitas yang besar saat realisasi di lapangan berbeda dengan perencanaan. Perbedaan antara asumsi dan realisasi ini seringkali menjadi pemicu ketidakstabilan nilai tukar.

Selain itu, terdapat keterkaitan erat antara kebijakan fiskal (RAPBN) dengan kebijakan moneter (BI Rate). Jika asumsi belanja negara dalam RAPBN 2027 sangat ekspansif, hal ini dapat mendorong inflasi. Untuk meredam inflasi tersebut, Bank Indonesia kemungkinan besar harus mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan. Suku bunga yang tinggi dapat memperkuat Rupiah karena meningkatkan imbal hasil (yield) aset keuangan domestik, namun di sisi lain, dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Faktor X: BI Rate dan Sinergi Kebijakan

Dalam diskusi mengenai dampak RAPBN, kita tidak bisa melepaskan peran suku bunga acuan atau BI Rate. Sinergi antara kebijakan fiskal yang dijalankan pemerintah melalui RAPBN dan kebijakan moneter yang dijalankan oleh Bank Indonesia adalah kunci stabilitas ekonomi makro.