DWJ Manajement - PORTAL

Video: Drone Serang Pelabuhan Mesir, Rupiah Tertahan di Rp 18.000/USD

Oleh: DWJ-Manajement 31 Jul 2026
Video: Drone Serang Pelabuhan Mesir, Rupiah Tertahan di Rp 18.000/USD

Rotasi Sektor Defensif: Investor cenderung mengalihkan modal mereka ke saham-saham sektor konsumsi (consumer goods) dan kesehatan (healthcare) yang kinerjanya cenderung stabil meski kondisi makroekonomi sedang bergejolak.

Sentimen Domestik yang Positif: Adanya ekspektasi terhadap kebijakan pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga, memberikan bantalan bagi emiten-emiten dalam negeri.

Tekanan Jual di Sektor Komoditas: Penurunan pada beberapa saham berbasis komoditas yang terdampak sentimen geopolitik secara tidak langsung memberikan ruang bagi saham perbankan untuk mengimbangi indeks.

Namun, penguatan IHSG ini belum mampu menjadi "penyelamat" bagi nilai tukar Rupiah. Rupiah justru tampak kesulitan menghadapi dominasi dolar AS yang menguat sebagai aset safe haven.

Mengapa Rupiah Tertahan di Level Rp 18.000 per USD?

Tekanan terhadap Rupiah mencapai level yang cukup mengkhawatirkan, yakni tertahan di kisaran Rp 18.000 per dolar AS. Fenomena ini menunjukkan adanya persepsi risiko yang tinggi di mata investor internasional terhadap mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

Ada beberapa alasan fundamental mengapa Rupiah mengalami kesulitan untuk menguat kembali:

Flight to Quality (Pelarian ke Aset Aman): Setiap kali terjadi eskalasi konflik di Timur Tengah, investor global cenderung menarik modal mereka dari pasar negara berkembang dan memindahkannya ke aset-aset yang dianggap paling aman, yaitu Dolar AS dan emas.

Ketidakpastian Kebijakan The Fed: Ancaman inflasi global akibat gangguan logistik di Mesir dapat membuat bank sentral AS tetap bersikap hawkish. Hal ini membuat daya tarik dolar tetap tinggi, sehingga tekanan terhadap mata uang lain seperti Rupiah terus berlanjut.