Konsumsi Rumah Tangga yang Stabil: Daya beli masyarakat tetap terjaga berkat terkendalinya inflasi dan adanya stimulus pada sektor-sektor konsumsi massal.
Akselerasi Investasi (PMTB): Penanaman Modal Bentuk Tetap (PMTB) mengalami peningkatan yang signifikan, terutama dari investasi asing langsung (FDI) yang masuk ke sektor hilirisasi mineral dan energi terbarukan.
Hilirisasi Industri: Kebijakan pemerintah untuk mengolah bahan mentah di dalam negeri telah meningkatkan nilai tambah ekspor dan memberikan kontribusi besar terhadap PDB.
Pengeluaran Pemerintah: Belanja pemerintah yang terukur, terutama untuk proyek infrastruktur strategis, memberikan multiplier effect terhadap ekonomi lokal.
Ekspor Komoditas Olahan: Meskipun harga komoditas global fluktuatif, nilai ekspor produk olahan hasil hilirisasi tetap menunjukkan tren positif.
Posisi Indonesia di Kawasan ASEAN
Salah satu poin krusial yang disampaikan dalam laporan tersebut adalah posisi Indonesia yang mampu bersaing dengan negara-negara tetangga di ASEAN. Dengan pertumbuhan 5,45 persen, Indonesia secara teknis berada di jajaran atas pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.
Jika dibandingkan dengan beberapa negara tetangga seperti Thailand atau Vietnam yang sedang berupaya menyeimbangkan kembali sektor manufaktur mereka, Indonesia menunjukkan keunggulan melalui kapasitas pasar domestik yang sangat besar. Hal ini menjadi bantalan (buffer) yang sangat efektif ketika permintaan ekspor global mengalami perlambatan.
Airlangga juga menambahkan bahwa posisi Indonesia sebagai pemimpin ekonomi di ASEAN semakin diperkuat dengan stabilitas makroekonomi yang terjaga. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai destinasi utama bagi modal global yang ingin mencari pasar dengan pertumbuhan yang berkelanjutan di Asia.