Saat pasar sedang dalam mode "risk-off" atau menghindari risiko, saham-saham yang bersifat siklikal (seperti properti, otomotif, atau teknologi) biasanya akan terkoreksi dalam. Dalam kondisi ini, strategi terbaik adalah melakukan rotasi sektor ke saham-saham defensif.
Sektor defensif adalah sektor yang produk atau jasanya tetap dibutuhkan masyarakat meskipun kondisi ekonomi sedang sulit atau sedang terjadi inflasi tinggi. Berikut adalah beberapa sektor yang layak diperhitungkan:
Consumer Goods (Barang Konsumsi): Perusahaan yang memproduksi kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, dan perlengkapan rumah tangga cenderung memiliki pendapatan yang stabil. Meskipun daya beli sedikit menurun, masyarakat akan tetap membeli kebutuhan dasar.
Healthcare (Kesehatan): Kebutuhan akan layanan kesehatan, obat-obatan, dan peralatan medis bersifat inelastis. Artinya, permintaan akan tetap ada terlepas dari fluktuasi ekonomi.
Utilities (Utilitas): Perusahaan penyedia listrik, air, dan telekomunikasi merupakan tulang punggung aktivitas harian. Pendapatan dari sektor ini biasanya lebih terprediksi dan memiliki arus kas yang kuat.
Jurus Kedua: Memaksimalkan Instrumen Safe Haven
Jika volatilitas pasar saham dirasa terlalu berisiko untuk jangka pendek, investor disarankan untuk melakukan diversifikasi ke aset yang bersifat "safe haven". Aset safe haven adalah instrumen yang nilainya cenderung stabil atau bahkan naik saat terjadi ketidakpastian ekonomi atau krisis politik/ekonomi.
Emas sebagai Pelindung Nilai
Emas telah teruji selama berabad-abad sebagai pelindung nilai (hedging) yang paling efektif terhadap inflasi dan pelemahan mata uang. Ketika Rupiah melemah terhadap Dolar, harga emas dalam Rupiah biasanya akan ikut naik. Memiliki sebagian portofolio dalam bentuk emas dapat menyeimbangkan kerugian yang mungkin terjadi pada aset berisiko lainnya.
Reksa Dana Pasar Uang (RDPU)