Penyediaan Big Data yang Terintegrasi: Membangun basis data nasional yang aman dan dapat diakses secara terkendali untuk melatih model AI dalam mengenali pola serangan siber di Indonesia.
Kapasitas Komputasi Tinggi: Memastikan ketersediaan infrastruktur high-performance computing agar proses analisis data siber yang masif dapat dilakukan dengan cepat.
Keamanan Infrastruktur AI itu Sendiri: Melindungi model AI dan data pelatihannya dari serangan adversarial machine learning, di mana penyerang mencoba memanipulasi cara kerja AI agar salah dalam mengambil keputusan.
2. Pengembangan Talenta Digital dan Literasi Keamanan Siber
Aspek kedua yang tidak kalah penting adalah sumber daya manusia (SDM). Secanggih apa pun teknologi yang dimiliki, peran manusia tetap menjadi kendali utama. Nezar menekankan adanya kebutuhan mendesak untuk menjembatani kesenjangan talenta (talent gap) di bidang keamanan siber dan kecerdasan buatan di Indonesia.
Indonesia membutuhkan tenaga ahli yang tidak hanya memahami cara kerja jaringan, tetapi juga mahir dalam mengoperasikan, mengawasi, dan mengembangkan sistem berbasis AI. Tantangannya adalah menciptakan ekosistem pendidikan dan pelatihan yang mampu mencetak pakar-pakar cybersecurity yang memiliki spesialisasi dalam AI-driven defense.
Selain tenaga ahli tingkat tinggi, literasi digital bagi masyarakat umum juga merupakan bagian dari aspek SDM ini. Mengingat banyak serangan siber dimulai dari kesalahan manusia (human error) seperti mengeklik tautan berbahaya, maka edukasi mengenai keamanan digital menjadi benteng pertama yang sangat krusial.
3. Kolaborasi Multisektor dan Regulasi yang Adaptif