Salah satu penyebab utamanya adalah adanya fenomena konveksi lokal. Panas matahari yang menyengat permukaan bumi di siang hari menyebabkan penguapan air yang tinggi di wilayah tertentu. Uap air ini kemudian naik ke atmosfer, mendingin, dan membentuk awan Cumulonimbus (Cb) yang masif. Awan inilah yang kemudian melepaskan hujan dalam volume besar secara tiba-tiba.
Faktor Pemicu Hujan Lokal
Beberapa faktor yang memperkuat terjadinya hujan lebat di wilayah-wilayah tertentu antara lain:
Suhu Permukaan Laut yang Hangat: Suhu laut yang tinggi di sekitar wilayah kepulauan Indonesia menyediakan pasokan uap air yang melimpah ke atmosfer.
Kelembapan Udara yang Tinggi: Meskipun cuaca terasa panas dan kering, kelembapan di lapisan atmosfer tertentu bisa sangat tinggi, memicu pembentukan awan hujan.
Topografi Wilayah: Wilayah pegunungan atau perbukitan cenderung mengalami pengangkatan massa udara (orografis) yang memicu terbentuknya hujan lokal.
Ancaman Bencana Hidrometeorologi yang Perlu Diwaspadai
BMKG mengingatkan bahwa hujan lebat, meskipun hanya terjadi di area yang sempit atau lokal, tetap membawa risiko bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang dipicu oleh parameter meteorologi seperti curah hujan, kelembapan, angin, dan suhu udara.
Beberapa risiko utama yang harus diantisipasi oleh masyarakat di lima wilayah terdampak adalah:
1. Banjir dan Genangan
Hujan lebat dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat dapat melampaui kapasitas daya serap tanah dan saluran drainase kota. Hal ini sering memicu banjir rob di pesisir atau banjir genangan di kawasan perkotaan yang padat penduduk.
2. Tanah Longsor
Bagi masyarakat yang tinggal di lereng perbukitan atau wilayah dengan kemiringan tanah yang curam, hujan lebat merupakan ancaman serius. Air hujan yang meresap ke dalam tanah dapat meningkatkan bobot tanah dan mengurangi daya ikatnya, yang pada akhirnya memicu longsor.
3. Angin Puting Beliung