Mengingat peran strategis kementerian yang dipimpinnya dalam urusan ketahanan pangan, peluang bisnis desa wisata ini sangat erat kaitannya dengan konsep agrowisata. Zulhas melihat adanya potensi besar jika desa-desa yang memiliki lahan pertanian produktif mampu mengemas aktivitas pertanian mereka menjadi daya tarik wisata.
Dengan konsep ini, Kopdes Merah Putih tidak hanya bertugas memasarkan hasil tani, tetapi juga menjual "pengalaman" kepada wisatawan. Wisatawan dapat belajar menanam, memanen, hingga menikmati hasil bumi langsung di tempat. Hal ini menciptakan nilai tambah (value-added) yang jauh lebih tinggi dibandingkan sekadar menjual komoditas mentah ke pasar.
Mengapa Desa Wisata Menjadi Pilihan Utama?
Sektor pariwisata di Indonesia sedang mengalami tren pemulihan yang sangat pesat pasca-pandemi. Namun, pemerintah kini mulai mengalihkan fokus dari pariwisata massal (*mass tourism*) menuju pariwisata berkualitas (*quality tourism*) yang lebih menekankan pada pengalaman dan keberlanjutan lingkungan.
Desa wisata adalah representasi sempurna dari tren tersebut. Dengan mengelola desa wisata, Kopdes Merah Putih dapat menyasar segmen pasar yang mencari ketenangan, keaslian alam, dan interaksi sosial dengan penduduk lokal. Ini adalah ceruk pasar yang terus tumbuh di kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara.
Secara ekonomi, pengelolaan desa wisata oleh koperasi akan memberikan dampak domino (*multiplier effect*) yang luas, di antaranya:
Penciptaan Lapangan Kerja Baru: Mulai dari pemandu wisata, pengelola homestay, hingga tenaga kebersihan dan keamanan.
Peningkatan Infrastruktur Desa: Kebutuhan pariwisata akan mendorong perbaikan akses jalan, jaringan internet, dan fasilitas sanitasi yang pada akhirnya juga dinikmati oleh warga desa.
Digitalisasi Ekonomi Desa: Pengelolaan wisata menuntut penggunaan teknologi, mulai dari sistem pemesanan hingga pemasaran digital, yang secara otomatis akan meningkatkan literasi digital masyarakat desa.
Tantangan dalam Implementasi
Meskipun peluangnya terlihat sangat menggiurkan, tantangan besar menanti di depan mata. Mengelola sebuah unit usaha pariwisata memerlukan standar pelayanan (*service excellence*) yang berbeda dengan mengelola unit usaha distribusi atau perdagangan barang pokok.