DWJ Manajement - PORTAL

Zulhas: RI Rugi Rp 250 T Setiap Tahun karena Nelayan Tidak Berdaya

Oleh: DWJ-Manajement • 05 Sep 2026
Zulhas: RI Rugi Rp 250 T Setiap Tahun karena Nelayan Tidak Berdaya

```html

Zulhas Soroti Kerugian Fantastis Rp 250 Triliun per Tahun: Nelayan Kita Masih Tak Berdaya

Potensi kekayaan laut Indonesia yang melimpah belum mampu memberikan dampak ekonomi maksimal akibat keterbatasan teknologi dan akses modal bagi nelayan lokal.

Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki potensi sumber daya laut yang tidak terbatas. Namun, di balik kemegahan samudera yang membentang dari Sabang sampai Merauke, tersimpan sebuah ironi besar yang menyayat hati para pengambil kebijakan. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau yang akrab disapa Zulhas, mengungkapkan sebuah fakta mengejutkan mengenai kondisi sektor kelautan kita saat ini.

Menurut Zulhas, Indonesia mengalami kerugian ekonomi yang sangat masif setiap tahunnya, yakni mencapai angka Rp 250 triliun. Angka ini bukanlah jumlah yang kecil, melainkan representasi dari hilangnya peluang emas untuk menyejahterakan bangsa. Penyebab utama dari kebocoran ekonomi ini, menurutnya, adalah kondisi nelayan lokal yang masih dianggap "tidak berdaya" dalam mengelola kekayaan lautnya sendiri.

Angka Kerugian Rp 250 Triliun: Sebuah Hilangnya Peluang Ekonomi

Pernyataan Zulhas mengenai kerugian Rp 250 triliun tersebut merujuk pada konsep opportunity cost atau biaya kesempatan yang hilang. Indonesia memiliki kekayaan hayati laut yang luar biasa, mulai dari ikan pelagis, demersal, hingga komoditas bernilai tinggi lainnya. Namun, potensi ini tidak dapat diserap secara optimal oleh perekonomian nasional karena kendala struktural yang dihadapi oleh para pelaku utama di lapangan, yaitu nelayan.

Ketidakberdayaan yang dimaksud bukan berarti nelayan tidak memiliki semangat untuk bekerja, melainkan mereka terjebak dalam ekosistem yang tidak mendukung pertumbuhan ekonomi mereka. Ketika nelayan lokal tidak mampu menangkap hasil laut dalam skala besar atau tidak mampu mengolahnya dengan teknologi modern, maka celah tersebut akan diisi oleh pihak lain, baik itu kapal-kapal asing yang melakukan pencurian ikan maupun industri besar yang tidak melibatkan masyarakat lokal secara adil.

Kerugian ini mencakup berbagai aspek, mulai dari nilai ekspor ikan yang hilang, rendahnya nilai tambah produk perikanan di dalam negeri, hingga hilangnya potensi pendapatan negara dari sektor pajak dan retribusi yang seharusnya bisa digali jika industri perikanan kita bergerak secara profesional dan modern.

Mengapa Nelayan Kita Disebut "Tidak Berdaya"?

Menelaah lebih dalam mengenai pernyataan "tidak berdaya" yang dilontarkan Zulhas, terdapat beberapa faktor fundamental yang menjadi akar permasalahan di sektor kelautan Indonesia. Ketidakberdayaan ini bersifat sistemik, mencakup aspek teknologi, finansial, hingga pengetahuan.

1. Keterbatasan Teknologi dan Armada Tangkap