PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Sektor perbankan seringkali menjadi sasaran utama akumulasi asing saat terjadi koreksi harga.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Meskipun pasar melemah, BMRI menunjukkan daya tarik kuat bagi pemodal asing melalui kinerja kreditnya.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI): Saham perbankan ini juga masuk dalam daftar akumulasi sebagai bagian dari diversifikasi sektor finansial.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Sektor telekomunikasi dianggap sebagai sektor defensif yang relatif tahan banting saat ekonomi melambat.
PT Astra International Tbk (ASII): Konglomerat ini seringkali menjadi instrumen utama bagi asing untuk bertaruh pada pertumbuhan ekonomi domestik.
PT United Tractors Tbk (UNTR): Pergerakan saham ini menarik perhatian asing, terutama yang terkait dengan siklus komoditas.
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP): Sebagai pemain utama sektor konsumsi, ICBP menarik minat asing karena sifatnya yang defensif.
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT): Sektor ritel konsumsi tetap menjadi pilihan investor asing untuk menjaga keseimbangan portofolio.
PT Kalbe Farma Tbk (KLBF): Sektor kesehatan seringkali menjadi pelarian modal saat terjadi ketidakpastian di sektor lain.
Strategi di Balik Akumulasi Asing
Mengapa asing memilih saham-saham tersebut? Jawabannya terletak pada kualitas aset. Saham-saham di atas umumnya memiliki likuiditas yang tinggi dan fundamental yang sangat kokoh. Investor asing memahami bahwa penurunan IHSG seringkali bersifat sementara dan didorong oleh sentimen makro, sementara perusahaan-perusahaan besar ini memiliki kemampuan untuk bertahan dalam jangka panjang.
Peluang atau Ancaman bagi Investor Ritel?