DWJ Manajement - PORTAL

10 Saham Ini Paling Banyak Masuk Keranjang Asing Kala IHSG Anjlok

Oleh: DWJ-Manajement • 25 Sep 2026
10 Saham Ini Paling Banyak Masuk Keranjang Asing Kala IHSG Anjlok

IHSG Terperosok ke Level 6.298, Investor Asing Jual Masif Rp 1,49 Triliun, Cek 10 Saham yang Justru Diborong!

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa yang kurang menggembirakan di tengah volatilitas pasar global yang tinggi. Pada penutupan perdagangan terbaru, indeks mengalami penurunan signifikan hingga menyentuh level 6.298,61. Kondisi ini menciptakan tekanan jual yang cukup luas di berbagai sektor, di mana sebanyak 462 saham tercatat bergerak di zona merah atau melemah.

Fenomena ini diperparah dengan aksi keluar dari pasar oleh investor asing. Tercatat, aliran modal asing (foreign flow) mengalami net sell atau penjualan bersih yang cukup besar, yakni mencapai angka Rp 1,49 triliun. Aksi jual masif ini menjadi sinyal kuat adanya sentimen negatif yang tengah membayangi pasar modal Indonesia, baik dari faktor domestik maupun tekanan makroekonomi global.

Analisis Penurunan IHSG dan Tekanan Jual Asing

Penurunan IHSG ke level 6.298,61 menandakan adanya koreksi teknikal yang cukup dalam. Banyak pelaku pasar yang mencoba melakukan aksi ambil untung (profit taking) setelah kenaikan sebelumnya, namun tekanan tersebut justru berbalik menjadi gelombang penjualan yang masif. Dengan 462 saham yang melemah, terlihat bahwa penurunan ini bukan hanya disebabkan oleh segelintir saham berkapitalisasi besar, melainkan sudah merata ke berbagai sektor.

Selain itu, angka penjualan bersih investor asing sebesar Rp 1,49 triliun memberikan gambaran bahwa pemodal internasional tengah bersikap hati-hati atau bahkan cenderung menghindari risiko (risk-off) di pasar berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini biasanya dipicu oleh ketidakpastian kebijakan moneter di Amerika Serikat, fluktuasi nilai tukar rupiah, atau dinamika geopolitik dunia yang tidak menentu.

Mengapa Investor Asing Melakukan Aksi Jual?

Ada beberapa faktor yang secara teori dapat memicu aksi net sell sebesar itu. Pertama, adalah penyesuaian portofolio terhadap suku bunga global. Jika ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, investor cenderung memindahkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven) seperti obligasi AS atau emas.

Kedua, adalah faktor valuasi. Ketika IHSG sudah berada di area yang dianggap mahal oleh standar global, investor asing seringkali melakukan rebalancing dengan menjual saham-saham di pasar berkembang untuk mengamankan keuntungan mereka. Namun, yang menarik untuk dicermati adalah meskipun terjadi net sell secara agregat, terdapat anomali di mana sejumlah saham tertentu justru mengalami akumulasi oleh asing.

Daftar 10 Saham yang Masuk Keranjang Asing Saat IHSG Anjlok

Di tengah kemerahan pasar, investor asing tampaknya melihat peluang di tengah penurunan harga. Fenomena ini sering disebut sebagai strategi buy on weakness. Mereka melakukan akumulasi pada saham-saham dengan fundamental kuat (blue chip) yang harganya sedang terdiskon akibat tekanan pasar secara umum. Berikut adalah 10 saham yang tercatat paling banyak masuk ke dalam "keranjang" investor asing di tengah penurunan IHSG:

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Sebagai saham penggerak indeks, BBCA tetap menjadi primadona bagi investor asing yang mencari stabilitas.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Sektor perbankan seringkali menjadi sasaran utama akumulasi asing saat terjadi koreksi harga.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Meskipun pasar melemah, BMRI menunjukkan daya tarik kuat bagi pemodal asing melalui kinerja kreditnya.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI): Saham perbankan ini juga masuk dalam daftar akumulasi sebagai bagian dari diversifikasi sektor finansial.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Sektor telekomunikasi dianggap sebagai sektor defensif yang relatif tahan banting saat ekonomi melambat.

PT Astra International Tbk (ASII): Konglomerat ini seringkali menjadi instrumen utama bagi asing untuk bertaruh pada pertumbuhan ekonomi domestik.

PT United Tractors Tbk (UNTR): Pergerakan saham ini menarik perhatian asing, terutama yang terkait dengan siklus komoditas.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP): Sebagai pemain utama sektor konsumsi, ICBP menarik minat asing karena sifatnya yang defensif.

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT): Sektor ritel konsumsi tetap menjadi pilihan investor asing untuk menjaga keseimbangan portofolio.

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF): Sektor kesehatan seringkali menjadi pelarian modal saat terjadi ketidakpastian di sektor lain.

Strategi di Balik Akumulasi Asing

Mengapa asing memilih saham-saham tersebut? Jawabannya terletak pada kualitas aset. Saham-saham di atas umumnya memiliki likuiditas yang tinggi dan fundamental yang sangat kokoh. Investor asing memahami bahwa penurunan IHSG seringkali bersifat sementara dan didorong oleh sentimen makro, sementara perusahaan-perusahaan besar ini memiliki kemampuan untuk bertahan dalam jangka panjang.

Peluang atau Ancaman bagi Investor Ritel?

Bagi investor ritel, kondisi pasar seperti ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, penurunan IHSG dan aksi jual asing bisa menyebabkan kepanikan (panic selling). Jika investor ritel tidak memiliki perencanaan yang matang, mereka berisiko menjual aset mereka di harga rendah.

Namun, di sisi lain, data akumulasi asing pada saham-saham tertentu bisa menjadi indikator penting. Ketika investor asing mulai "menabung" di saham-saham berkualitas saat harga sedang turun, ini bisa menjadi sinyal bahwa harga tersebut sudah mendekati area support atau nilai wajarnya. Strategi buy on weakness pada saham blue chip seringkali menjadi cara yang efektif untuk meraih keuntungan saat pasar kembali mengalami reli (pemulihan).

Tips Menghadapi Volatilitas Pasar

Dalam menghadapi situasi pasar yang tidak menentu, para ahli menyarankan beberapa langkah berikut:

Perhatikan Fundamental, Bukan Hanya Harga: Jangan hanya terpaku pada penurunan harga harian. Pastikan perusahaan yang Anda beli memiliki kinerja keuangan yang sehat.

Diversifikasi Portofolio: Jangan menaruh seluruh modal Anda dalam satu sektor saja. Diversifikasi dapat membantu meminimalkan risiko saat satu sektor mengalami tekanan berat.

Manfaatkan Data Foreign Flow: Perhatikan ke mana arah aliran dana asing. Akumulasi asing pada saham tertentu seringkali menjadi indikator arah pasar ke depan.

Tetap Tenang dan Jangan FOMO: Hindari melakukan transaksi impulsif karena rasa takut (Fear of Missing Out) atau ketakutan berlebih.

Kesimpulan

Penurunan IHSG ke level 6.298,61 disertai dengan aksi jual bersih asing sebesar Rp 1,49 triliun merupakan dinamika pasar yang wajar dalam kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Meskipun sebagian besar pasar bergerak merah, kehadiran 10 saham yang diborong oleh investor asing menunjukkan bahwa masih ada optimisme pada aset-aset berkualitas tinggi di Indonesia.

Investor disarankan untuk tetap waspada namun tetap jeli melihat peluang. Memantau pergerakan dana asing dan fokus pada saham-saham dengan fundamental kuat dapat membantu Anda menavigasi pasar di tengah badai volatilitas ini. Selalu lakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Menampilkan Seluruh Artikel