Anak Krakatau Meletus, 4 Penerbangan Garuda Indonesia Dialihkan ke Kertajati; Kemenhub Siapkan Bandara Alternatif
Antisipasi penyebaran abu vulkanik yang membahayakan keselamatan penerbangan, otoritas transportasi menyiapkan langkah mitigasi darurat.
JAKARTA - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang kembali menunjukkan peningkatan signifikan telah memicu perubahan operasional pada sektor penerbangan nasional. Sebagai langkah mitigasi terhadap potensi sebaran abu vulkanik yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan, maskapai nasional Garuda Indonesia mengumumkan pengalihan rute sejumlah penerbangannya ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati.
Langkah ini diambil menyusul adanya ancaman abu vulkanik yang menyebar di wilayah udara sekitar Provinsi Banten dan sekitarnya. Berdasarkan pantauan terbaru, erupsi Anak Krakatau berpotensi mengirimkan material vulkanik ke ketinggian yang menjadi jalur lintasan pesawat komersial, sehingga menuntut tindakan preventif dari pihak maskapai maupun otoritas penerbangan.
Pengalihan Rute Garuda Indonesia ke Kertajati
Pihak Garuda Indonesia mengonfirmasi bahwa sedikitnya empat jadwal penerbangan terpaksa dialihkan menuju Bandara Kertajati. Keputusan ini merupakan bagian dari prosedur keselamatan ketat yang dijalankan maskapai ketika menghadapi kondisi cuaca ekstrem maupun gangguan aktivitas alam seperti erupsi gunung berapi.
Pengalihan ini bertujuan untuk menghindari zona bahaya di mana konsentrasi abu vulkanik mungkin berada pada tingkat yang mengancam integritas mesin pesawat. Meskipun Bandara Kertajati terletak cukup jauh dari titik pusat erupsi di Selat Sunda, pemilihan bandara ini dianggap sebagai opsi yang paling strategis untuk menjamin kelancaran logistik dan mobilisasi penumpang tanpa harus melewati area terdampak secara langsung.
Para penumpang yang terdampak pengalihan rute ini diharapkan dapat melakukan koordinasi lebih lanjut dengan pihak maskapai terkait jadwal keberangkatan, penyediaan transportasi lanjutan, serta fasilitas kompensasi jika terjadi keterlambatan yang signifikan.
Kemenhub Siapkan Bandara Alternatif di Berbagai Wilayah
Menanggapi situasi tersebut, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia menyatakan telah mengambil langkah siaga satu. Kemenhub tengah menyiapkan sejumlah bandara alternatif di berbagai wilayah untuk mengantisipasi jika sebaran abu vulkanik semakin meluas dan memaksa penutupan sementara pada bandara-bandara utama di sekitar Banten dan Lampung.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menekankan bahwa koordinasi intensif terus dilakukan dengan pihak AirNav Indonesia (Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia) untuk memantau pergerakan awan abu vulkanik secara real-time. Langkah ini sangat krusial agar keputusan mengenai pembukaan atau penutupan ruang udara dapat dilakukan secara akurat dan berbasis data ilmiah.
Langkah-Langkah Mitigasi yang Dilakukan Pemerintah: