Pemantauan Intensif: Melakukan koordinasi rutin dengan PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) untuk memantau tinggi kolom erupsi dan arah angin.
Koordinasi Navigasi: Memastikan AirNav dapat memberikan informasi navigasi yang akurat kepada pilot mengenai zona bebas abu vulkanik.
Kesiapan Bandara Cadangan: Mengidentifikasi bandara-bandara di luar zona terdampak yang memiliki kapasitas untuk menampung arus pengalihan pesawat (divert).
Sosialisasi kepada Maskapai: Memberikan panduan mengenai prosedur keselamatan tambahan saat menghadapi situasi abu vulkanik.
Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya bagi Pesawat?
Bagi masyarakat awam, mungkin muncul pertanyaan mengapa abu vulkanik menjadi ancaman yang begitu serius bagi dunia penerbangan. Secara teknis, abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel-partikel ini terdiri dari pecahan batuan, kristal silika, dan kaca vulkanik yang sangat keras dan memiliki titik lebur yang relatif rendah.
Berikut adalah beberapa dampak fatal yang dapat ditimbulkan oleh abu vulkanik terhadap pesawat terbang:
1. Kerusakan Mesin Jet (Engine Flameout)
Saat pesawat terbang melewati awan abu, partikel silika dapat tersedot masuk ke dalam mesin jet. Karena suhu di dalam ruang bakar mesin sangat tinggi, partikel silika tersebut akan mencair dan kemudian membeku kembali menjadi lapisan kaca yang melapisi bilah turbin. Hal ini dapat menyebabkan gangguan aliran udara, penurunan daya dorong, bahkan menyebabkan mesin mati secara mendadak (flameout).
2. Penurunan Jarak Pandang (Visibility)
Konsentrasi abu yang tinggi di udara dapat menurunkan jarak pandang pilot secara drastis. Dalam kondisi cuaca buruk atau malam hari, hal ini sangat membahayakan proses lepas landas (take-off) maupun pendaratan (landing), terutama di bandara yang memiliki keterbatasan fasilitas navigasi visual.
3. Abrasi pada Komponen Pesawat