DWJ Manajement - PORTAL

43 Ribu Orang Kena PHK, Pengusaha Ungkap Biang Keroknya

Oleh: DWJ-Manajement 21 Aug 2026
43 Ribu Orang Kena PHK, Pengusaha Ungkap Biang Keroknya

Gelombang PHK 43 Ribu Pekerja: Apindo Ungkap 'Biang Kerok' di Balik Krisis Lapangan Kerja

Tekanan ekonomi global dan merosotnya daya beli masyarakat menjadi faktor utama yang mencekik dunia usaha serta memicu lonjakan pemutusan hubungan kerja.

Kabar buruk kembali menyelimuti dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Data terbaru dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan, di mana sebanyak 43 ribu orang terpaksa kehilangan pekerjaan atau terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Fenomena ini memicu tanda tanya besar di tengah upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Menanggapi lonjakan angka tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, memberikan analisis mendalam mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik layar industri tanah air. Menurutnya, fenomena PHK massal ini bukanlah kejadian tunggal yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari akumulasi berbagai tekanan ekonomi yang saling berkaitan.

Tekanan Global dan Ketidakpastian Ekonomi

Shinta Kamdani menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama yang tidak bisa dihindari oleh pelaku usaha adalah kondisi geopolitik dan ekonomi global yang sedang tidak menentu. Ketegangan di berbagai belahan dunia telah menciptakan efek domino terhadap rantai pasok global dan stabilitas harga komoditas.

Ketika ketidakpastian global meningkat, investor cenderung bersikap sangat hati-hati atau bahkan menarik modal mereka dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Hal ini berdampak langsung pada biaya operasional perusahaan. Berikut adalah beberapa faktor global yang menjadi tekanan bagi pengusaha:

Fluktuasi Harga Bahan Baku: Ketidakstabilan geopolitik menyebabkan harga energi dan bahan baku impor menjadi sangat fluktuatif, yang secara otomatis menekan margin keuntungan perusahaan.

Suku Bunga Tinggi: Kebijakan moneter global yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi membuat biaya pinjaman modal bagi perusahaan menjadi lebih mahal.

Penurunan Permintaan Ekspor: Ekonomi negara-negara mitra dagang utama Indonesia yang melambat mengakibatkan permintaan terhadap produk ekspor Indonesia turut merosot tajam.