DWJ Manajement - PORTAL

43 Ribu Orang Kena PHK, Pengusaha Ungkap Biang Keroknya

Oleh: DWJ-Manajement 21 Aug 2026
43 Ribu Orang Kena PHK, Pengusaha Ungkap Biang Keroknya

Kondisi ini memaksa banyak perusahaan, terutama yang sangat bergantung pada pasar ekspor dan bahan baku impor, untuk melakukan efisiensi besar-besaran. Sayangnya, langkah efisiensi yang paling sering diambil adalah pengurangan jumlah tenaga kerja.

Daya Beli Masyarakat yang Melemah: Ancaman Sektor Riil

Selain faktor eksternal, Shinta Kamdani menyoroti masalah fundamental di dalam negeri, yaitu penurunan daya beli masyarakat. Sebagai negara yang sangat bergantung pada konsumsi domestik sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi, melemahnya daya beli adalah sinyal bahaya bagi sektor riil.

Ketika masyarakat, terutama kelas menengah, mulai mengerem pengeluaran mereka karena kekhawatiran akan inflasi atau kenaikan harga kebutuhan pokok, maka pendapatan perusahaan akan otomatis menurun. Penurunan pendapatan ini menciptakan lingkaran setan yang sangat berbahaya bagi keberlangsungan bisnis.

Logikanya sederhana namun mematikan: permintaan barang dan jasa turun → stok menumpuk → pendapatan perusahaan merosot → perusahaan melakukan efisiensi → PHK terjadi → daya beli masyarakat semakin menurun lagi karena kehilangan pendapatan.

Sektor Manufaktur Menjadi Korban Terbesar

Dari berbagai sektor yang terdampak, industri manufaktur, khususnya tekstil dan produk tekstil (TPT), menjadi salah satu yang paling menderita. Sektor ini merupakan penyerap tenaga kerja yang sangat besar, sehingga setiap kebijakan efisiensi di sektor ini akan berdampak langsung pada angka pengangguran nasional.

Kombinasi antara gempuran produk impor yang murah serta biaya produksi domestik yang terus meningkat membuat industri manufaktur lokal kesulitan untuk bersaing. Hal ini diperparah dengan menurunnya pesanan dari pembeli luar negeri yang mulai mengalihkan sumber pengadaannya ke negara lain dengan biaya produksi yang lebih kompetitif.

Dampak Psikologis dan Sosial yang Luas

Angka 43 ribu PHK bukan sekadar deretan statistik di atas kertas. Di balik angka tersebut, terdapat ribuan keluarga yang kehilangan sumber penghasilan utama mereka. Shinta menekankan bahwa dampak PHK melampaui masalah ekonomi perusahaan; ia merambah ke masalah sosial yang lebih luas.

Meningkatnya angka pengangguran dapat menurunkan standar hidup masyarakat, meningkatkan angka kemiskinan, hingga memicu masalah sosial lainnya jika tidak segera ditangani oleh pemerintah. Selain itu, adanya ketidakpastian kerja (job insecurity) membuat masyarakat semakin ragu untuk melakukan konsumsi jangka panjang, seperti pembelian properti atau kendaraan, yang pada akhirnya kembali memukul sektor ekonomi lainnya.

Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah dan Pengusaha?