Di era digital saat ini, kemudahan akses terhadap pinjaman online (pinjol) dan fitur paylater menjadi pisau bermata dua. Bagi mereka yang berada di kelas ekonomi bawah, fasilitas ini sering kali menjadi "penyelamat" jangka pendek untuk menutupi kekurangan biaya makan atau kebutuhan mendesak lainnya. Namun, secara jangka panjang, hal ini justru menciptakan lingkaran setan bunga berbunga yang semakin memperparah kemiskinan.
Ciri utang yang menjadi indikator kelas bawah adalah:
Menggunakan pinjaman untuk membeli barang-barang yang nilainya menyusut (seperti gadget terbaru atau pakaian).
Menggunakan utang baru untuk membayar cicilan utang lama (gali lubang tutup lubang).
Rasio cicilan utang terhadap pendapatan bulanan yang melampaui batas aman (di atas 30%).
3. Ketiadaan Dana Darurat dan Jaring Pengaman Finansial
Ketahanan ekonomi seseorang dapat diukur dari seberapa mampu mereka menghadapi situasi tak terduga. Warga kelas bawah umumnya memiliki kerentanan yang sangat tinggi terhadap guncangan ekonomi, seperti kehilangan pekerjaan, sakit mendadak, atau kerusakan kendaraan yang digunakan untuk bekerja.
Tanpa adanya dana darurat (emergency fund), satu peristiwa buruk saja dapat langsung menjatuhkan mereka ke dalam jurang kemiskinan yang lebih dalam. Mereka tidak memiliki tabungan yang cukup untuk menopang hidup selama minimal tiga hingga enam bulan jika sumber pendapatan utama mereka terhenti.
Kondisi ini juga sering kali diperparah dengan kurangnya kepemilikan asuransi kesehatan atau perlindungan sosial lainnya, sehingga setiap ada masalah medis, seluruh aset atau pendapatan yang tersisa akan habis dalam sekejap untuk biaya pengobatan.
4. Minimnya Kepemilikan Aset Produktif
Perbedaan mencolok antara kelas ekonomi bawah dan kelas menengah-atas terletak pada komposisi aset yang mereka miliki. Warga kelas bawah cenderung memiliki aset yang bersifat konsumtif atau aset yang nilainya menyusut seiring waktu.
Aset produktif adalah aset yang mampu menghasilkan aliran kas tambahan atau mengalami kenaikan nilai secara signifikan dalam jangka panjang, seperti saham, obligasi, emas, tanah, atau properti sewaan. Sebaliknya, banyak warga kelas bawah yang fokusnya adalah memiliki barang-barang yang mendukung status sosial namun tidak menambah kekayaan, seperti kendaraan bermotor yang cicilannya tinggi namun nilai jualnya terus merosot.
Jika Anda mendapati bahwa kekayaan Anda hanya berupa barang-barang elektronik atau kendaraan yang terus menyusut nilainya tanpa ada investasi yang bertumbuh, maka Anda perlu waspada terhadap posisi ekonomi Anda.
5. Ketergantungan pada Pendapatan Harian atau Bantuan Sosial