Geliat Pariwisata Indonesia Meningkat, 96 Ribu Turis Asing Pilih Kereta Api Jarak Jauh dalam Sebulan
Tren perjalanan lambat (slow travel) di kalangan wisatawan mancanegara mulai terlihat jelas di Indonesia. Peningkatan jumlah pengguna jasa PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang didominasi oleh turis asing menjadi sinyal positif bagi sektor pariwisata dan transportasi nasional.
Lonjakan Signifikan Penggunaan Kereta Api oleh Wisatawan Mancanegara
Sektor pariwisata Indonesia kembali menunjukkan taringnya di kancah internasional. Salah satu indikator yang paling menonjol bukan hanya datang dari jumlah kunjungan ke destinasi wisata, melainkan juga dari pergeseran pola mobilitas wisatawan di dalam negeri. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero), terdapat lonjakan penggunaan moda transportasi kereta api jarak jauh yang dilakukan oleh wisatawan mancanegara (wisman) secara signifikan.
Sepanjang bulan Juli 2026, tercatat sebanyak 96.940 wisatawan mancanegara memilih menggunakan layanan kereta api jarak jauh untuk menunjang perjalanan mereka di berbagai wilayah Indonesia. Angka ini mencerminkan kepercayaan yang tinggi terhadap keamanan, kenyamanan, dan keandalan layanan kereta api nasional dalam melayani kebutuhan mobilitas internasional.
Kenaikan ini tidak terjadi tanpa alasan. Para turis asing, yang mayoritas berasal dari negara-negara maju di Eropa, Amerika Utara, serta Asia Timur, kini mulai meninggalkan pola perjalanan cepat menggunakan pesawat terbang untuk jarak pendek hingga menengah. Mereka lebih memilih untuk menikmati pemandangan alam Indonesia melalui jendela kereta api, sebuah pengalaman yang sering disebut sebagai bagian dari esensi perjalanan itu sendiri.
Stasiun Utama sebagai Gerbang Konektivitas Wisata
Berdasarkan pola pergerakan penumpang, terdapat beberapa stasiun besar yang menjadi titik sentral atau "hub" utama bagi para wisatawan mancanegara ini. Meskipun distribusi penumpang tersebar di berbagai wilayah, stasiun-stasiun di kota-kota besar yang terhubung dengan destinasi wisata populer mencatat volume wisman tertinggi.
Stasiun-stasiun seperti Gambir di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung menjadi magnet utama. Stasiun Gambir, misalnya, berfungsi sebagai pintu gerbang utama bagi turis yang baru saja mendarat di ibu kota dan ingin melanjutkan perjalanan ke arah Jawa Tengah atau Jawa Timur. Sementara itu, Stasiun Yogyakarta menjadi titik transit paling krusial bagi mereka yang ingin mengeksplorasi budaya di sekitar Borobudur dan Prambanan.
Dominasi stasiun-stasiun ini menunjukkan bahwa integrasi antara transportasi udara, transportasi darat, dan kereta api di kota-kota besar sudah mulai berjalan selaras. Kemudahan akses dari bandara menuju stasiun utama menjadi faktor kunci yang memudahkan para turis dalam merencanakan perjalanan lintas kota mereka.
Mengapa Turis Asing Memilih Kereta Api?