Secara teknis, penurunan IHSG ke level 6.135 menempatkan indeks pada area krusial. Para analis melihat bahwa level psikologis 6.100 akan menjadi area dukungan (support) penting yang harus dipertahankan agar IHSG tidak terjebak dalam tren penurunan yang lebih dalam (downtrend).
Jika dalam sesi kedua nanti tekanan jual tidak mereda dan volume perdagangan terus meningkat di sisi penurunan, ada potensi IHSG akan menguji level support berikutnya. Namun, jika terdapat akumulasi yang cukup kuat dari investor institusi, terdapat peluang bagi IHSG untuk melakukan rebound tipis dan kembali ke area hijau sebelum penutupan pasar.
Investor disarankan untuk memperhatikan beberapa hal berikut sebelum mengambil keputusan di sesi kedua:
Memantau arus modal asing (foreign flow) untuk melihat apakah terjadi akumulasi atau distribusi.
Memperhatikan volume perdagangan pada saham-saham penggerak indeks.
Mengantisipasi rilis data ekonomi terbaru yang mungkin mempengaruhi sentimen pasar domestik.
Tetap waspada terhadap volatilitas yang dipicu oleh implementasi kebijakan BEI yang baru.
Kesimpulan
Penurunan IHSG sebesar 0,21% ke level 6.135 di akhir sesi I pada 29 September 2026 merupakan refleksi dari sikap hati-hati pasar terhadap kombinasi tekanan jual dan adanya kebijakan baru dari Bursa Efek Indonesia. Fluktuasi yang terjadi menunjukkan bahwa pasar sedang dalam fase penyesuaian terhadap regulasi baru serta melakukan aksi ambil untung pada sejumlah saham unggulan. Ke depan, keberhasilan IHSG untuk bertahan di atas level support penting akan sangat bergantung pada kemampuan pasar dalam menyerap kebijakan baru tersebut serta kembalinya kepercayaan investor untuk melakukan aksi beli.