DWJ Manajement - PORTAL

Asing Kompak Borong 10 Saham Ini Kala IHSG Merah

Oleh: DWJ-Manajement 29 Jul 2026
Asing Kompak Borong 10 Saham Ini Kala IHSG Merah

BBCA (PT Bank Central Asia Tbk): Menjadi favorit utama karena ketahanan fundamentalnya yang luar biasa dalam menghadapi volatilitas pasar.

BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia Tbk): Investor asing melihat nilai dividen dan ekspansi kredit mikro sebagai daya tarik utama di tengah koreksi.

BMRI (PT Bank Mandiri Tbk): Efisiensi operasional yang tinggi membuat saham ini terus menjadi incaran saat harga mengalami penyesuaian.

BBNI (PT Bank Negara Indonesia Tbk): Menawarkan valuasi yang menarik bagi investor asing yang mencari saham perbankan dengan harga yang masih masuk akal.

TLKM (PT Telkom Indonesia Tbk): Sektor telekomunikasi dipandang sebagai sektor defensif yang aman saat pasar sedang tidak menentu.

ASII (PT Astra International Tbk): Konglomerasi ini tetap menjadi representitas ekonomi Indonesia yang dipercaya oleh investor global.

ICBP (PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk): Sektor konsumsi tetap menjadi pilihan utama karena daya beli masyarakat yang cenderung stabil.

UNVR (PT Unilever Indonesia Tbk): Meski mengalami tantangan, aksi akumulasi terlihat pada saham ini sebagai bagian dari strategi diversifikasi.

AMRT (PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk): Pertumbuhan sektor ritel kebutuhan pokok memberikan rasa aman bagi investor asing.

INDF (PT Indofood Sukses Makmur Tbk): Sebagai induk usaha, INDF menjadi instrumen aman untuk menangkap sentimen positif di sektor consumer goods.

Mengapa Mereka Memilih Saham-Saham Tersebut?

Ada beberapa alasan teknis dan fundamental mengapa sepuluh saham di atas tetap kokoh dan justru diborong saat IHSG terjun bebas. Pertama adalah faktor kapitalisasi pasar (market cap). Saham-saham yang disebutkan di atas merupakan penggerak utama indeks. Ketika investor asing ingin masuk kembali ke pasar Indonesia, mereka akan terlebih dahulu mengisi keranjang mereka dengan saham-saham berkapitalisasi besar ini.

Kedua adalah aspek defensif. Saat pasar sedang bergejolak, investor cenderung menghindari saham-saham gorengan atau saham dengan volatilitas tinggi yang tidak memiliki dasar fundamental. Mereka lebih memilih sektor perbankan (sebagai motor ekonomi) dan sektor konsumsi (yang produknya tetap dibeli masyarakat meski ekonomi melambat).