BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia Tbk): Investor asing melihat peluang pada sektor mikro yang tetap tumbuh meski kondisi makro menantang.
TLKM (PT Telkom Indonesia Tbk): Sektor telekomunikasi dianggap defensif, sehingga menjadi pilihan saat pasar sedang volatil.
ASII (PT Astra International Tbk): Penurunan harga saham Astra dianggap sudah mencapai level valuasi yang menarik bagi investor jangka panjang.
BMRI (PT Bank Mandiri Tbk): Efisiensi dan pertumbuhan kredit yang stabil membuat emiten ini tetap masuk dalam daftar belanja asing.
ICBP (PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk): Sektor konsumer dianggap mampu bertahan di tengah tekanan inflasi dan daya beli.
AMRT (PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk): Kekuatan jaringan ritelnya menjadikan saham ini pilihan menarik untuk diversifikasi.
UNVR (PT Unilever Indonesia Tbk): Meskipun sempat mengalami tekanan, beberapa investor asing mulai melihat titik balik pada emiten konsumer ini.
PGAS (PT Perusahaan Gas Negara Tbk): Sektor energi tetap dilirik, terutama emiten yang memiliki arus kas yang kuat.
BBNI (PT Bank Negara Indonesia Tbk): Valuasi yang masih relatif terdiskon dibandingkan bank besar lainnya menarik minat akumulasi.
Mengapa Saham-Saham Tersebut Dipilih?
Ada beberapa alasan teknis dan fundamental mengapa 10 saham di atas tetap mendapatkan limpahan dana asing meskipun IHSG sedang dalam kondisi "berdarah":
1. Fundamental yang Teruji
Saham-saham yang masuk dalam daftar tersebut umumnya adalah pemimpin pasar (market leaders) di sektornya masing-masing. Mereka memiliki laporan keuangan yang sehat, rasio utang yang terkendali, dan kemampuan mencetak laba yang konsisten.
2. Valuasi yang Menarik (Undervalued)
Koreksi pasar yang terjadi seringkali membuat harga saham-saham berkualitas tinggi jatuh di bawah nilai intrinsiknya. Bagi investor asing yang memiliki cakrawala investasi jangka panjang, kondisi ini adalah momentum emas untuk membeli aset berkualitas dengan harga murah.