7. ICBP (Indofood CBP Sukses Makmur Tbk)
Saham konsumsi seperti ICBP selalu menjadi tujuan utama saat terjadi kepanikan pasar. Sifatnya yang defensif membuat investor asing memilih saham ini untuk mengurangi risiko kerugian dari volatilitas sektor lain.
8. UNVR (Unilever Indonesia Tbk)
Meski mengalami tekanan kompetisi, Unilever tetap memiliki kekuatan brand yang tak tertandingi. Investor asing memanfaatkan penurunan harga untuk mengumpulkan saham ini dengan ekspektasi pemulihan margin di masa depan.
9. AMRT (Sumber Alfaria Trijaya Tbk)
Sektor ritel kebutuhan pokok terus menunjukkan ketahanan. AMRT menjadi salah satu saham yang menunjukkan perlawanan terhadap tren penurunan IHSG dengan adanya aliran dana masuk dari asing.
10. ADRO (Adaro Energy Indonesia Tbk)
Di sektor komoditas, ADRO tetap menjadi primadona karena arus kas yang kuat dan kebijakan dividen yang royal. Asing memanfaatkan momentum penurunan harga komoditas global untuk masuk ke saham ini.
Strategi Menghadapi Volatilitas Pasar
Bagi investor ritel, melihat aksi jual asing sebesar Rp1,04 triliun mungkin sangat menakutkan. Namun, melihat daftar saham yang diborong asing memberikan perspektif yang berbeda. Alih-alih ikut melakukan panic selling, investor disarankan untuk lebih selektif.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memeriksa fundamental perusahaan. Jangan hanya melihat harga yang turun, tetapi lihatlah apakah kinerja perusahaan tersebut tetap terjaga. Langkah kedua adalah melakukan diversifikasi. Jangan menaruh seluruh modal pada satu sektor, terutama saat kondisi pasar sedang tidak menentu.
Terakhir, penting untuk memperhatikan level support teknikal. Jika saham-saham blue chip yang diborong asing tadi mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah (reversal) pada grafik harian, itu bisa menjadi sinyal awal untuk mulai membangun posisi secara bertahap (dollar cost averaging).
Kesimpulan
Kejatuhan IHSG sebesar 3,05% ke level 5.643,19 pada akhir Juni 2026 memang merupakan pukulan berat bagi pasar modal Indonesia, terutama dengan adanya aksi jual bersih asing senilai Rp1,04 triliun. Namun, fenomena akumulasi diam-diam pada 10 saham unggulan seperti BBCA, BBRI, hingga ICBP menunjukkan bahwa investor besar tidak sepenuhnya meninggalkan pasar Indonesia.
Mereka justru sedang melakukan pergeseran strategi, dari saham berisiko tinggi ke saham-saham berkualitas tinggi yang memiliki fundamental kokoh. Bagi investor, momen ini bisa menjadi peluang emas untuk melakukan "rebalancing" portofolio, asalkan dilakukan dengan perhitungan yang matang dan berbasis pada data fundamental, bukan sekadar mengikuti kepanikan pasar.