Para ahli menyarankan agar investor tetap tenang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan berdasarkan emosi. Dalam kondisi pasar yang sedang "berdarah" seperti ini, penting bagi investor untuk:
Melakukan Evaluasi Portofolio: Memeriksa kembali fundamental perusahaan yang dimiliki untuk memastikan apakah penurunan harga disebabkan oleh sentimen pasar semata atau memang ada perubahan fundamental pada perusahaan tersebut.
Memperhatikan Arus Modal Asing: Memantau apakah terjadi net foreign sell yang masif, karena ini bisa menjadi indikator keberlanjutan tren penurunan.
Menjaga Rasio Kas: Dalam kondisi volatilitas tinggi, memiliki cadangan kas (cash is king) sangat penting agar investor memiliki fleksibilitas untuk membeli saham bagus di harga diskon saat pasar mulai stabil.
Meskipun kondisi saat ini terlihat negatif, sejarah pasar modal menunjukkan bahwa setiap koreksi tajam seringkali membuka peluang bagi investor jangka panjang untuk masuk ke aset-aset berkualitas tinggi dengan harga yang lebih murah. Namun, manajemen risiko tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi ketidakpastian ini.
Kesimpulan
Penurunan IHSG hingga 1,97% ke level 6.119,08 pada awal Sesi I merupakan dampak nyata dari kombinasi kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) dan sentimen negatif dari pasar global. Tekanan dari sektor perbankan dan ketidakpastian regulasi domestik telah menciptakan gelombang aksi jual yang signifikan. Investor disarankan untuk tetap waspada, memantau pergerakan arus modal asing, dan tetap berpegang pada strategi investasi berbasis fundamental guna menghadapi volatilitas pasar yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini.