Tahap Ingesti dan Abrasi: Saat pesawat terbang menembus awan abu, partikel tajam tersebut masuk ke dalam mesin. Partikel ini akan bertindak seperti "amplas" yang mengikis bilah kompresor (compressor blades) yang berputar dengan kecepatan sangat tinggi. Abrasi ini dapat merusak profil aerodinamika bilah, yang pada akhirnya menurunkan efisiensi mesin.
Tahap Pelelehan (Melting): Inilah fase yang paling kritis. Mesin jet bekerja dengan cara membakar bahan bakar pada suhu yang sangat ekstrem di dalam ruang bakar (combustion chamber). Suhu di area ini jauh melampaui titik leleh silika atau kaca yang terkandung dalam abu vulkanik.
Tahap Pelapisan (Glazing): Begitu abu masuk ke ruang bakar, partikel-partikel tersebut akan meleleh seketika dan berubah menjadi cairan kaca panas. Cairan ini kemudian akan terhempas ke bilah turbin (turbine blades) yang terletak di bagian belakang mesin.
Tahap Penyumbatan: Cairan kaca yang panas tersebut akan mendingin dengan cepat saat menyentuh komponen turbin, menciptakan lapisan keras yang menempel secara permanen (glazing). Lapisan ini akan menyumbat saluran udara dan mengganggu aliran panas, yang dapat menyebabkan mesin mengalami mati mendadak (engine flameout) atau bahkan kerusakan struktural permanen pada turbin.
Dampak Tambahan: Bukan Hanya Mesin yang Terancam
Meskipun kerusakan mesin adalah ancaman paling utama, abu vulkanik juga memberikan dampak buruk pada komponen vital pesawat lainnya yang berkaitan langsung dengan pengoperasian dan visibilitas pilot.
1. Kerusakan pada Kaca Depan (Windshield)
Sama halnya dengan proses abrasi pada mesin, partikel tajam abu vulkanik yang menghantam kaca depan kokpit dengan kecepatan tinggi dapat menyebabkan goresan permanen. Jika goresan ini terlalu banyak, visibilitas pilot saat mendarat atau terbang dalam kondisi cahaya rendah akan sangat terganggu, yang tentu saja meningkatkan risiko kecelakaan.
2. Gangguan pada Sensor Pesawat (Pitot Tubes)