DWJ Manajement - PORTAL

Bahlil: Masa Harga Komoditas RI Diatur Negara Lain, Enak Aja!

Oleh: DWJ-Manajement 19 Aug 2026
Bahlil: Masa Harga Komoditas RI Diatur Negara Lain, Enak Aja!

Peningkatan Pendapatan Negara: Melalui mekanisme perdagangan yang terpusat, pemerintah dapat lebih mudah mengawasi arus keluar-masuk komoditas dan mengoptimalkan penerimaan negara.

Memutus Rantai Ketergantungan Global

Bahlil menekankan bahwa selama Indonesia hanya mengandalkan indeks harga luar negeri, maka posisi tawar Indonesia dalam negosiasi perdagangan internasional akan selalu lemah. Negara-negara pemegang otoritas bursa global memiliki kekuatan untuk menggerakkan harga melalui kebijakan atau spekulasi pasar, yang seringkali merugikan negara produsen seperti Indonesia.

Kondisi ini dianggap kontradiktif dengan semangat hilirisasi yang selama ini digelorakan oleh pemerintah. Hilirisasi bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri, namun jika nilai tambah tersebut tetap ditentukan oleh pihak asing melalui harga yang tidak kompetitif bagi produsen lokal, maka tujuan kesejahteraan ekonomi nasional akan sulit tercapai secara maksimal.

"Kita punya barangnya, kita punya sumber dayanya, tapi kenapa kita tidak punya kendali atas harganya? Ini yang harus kita ubah melalui pembentukan bursa ini," tambah Bahlil.

Sinergi dengan Program Hilirisasi Nasional

Pembentukan Bursa Mineral dipandang sebagai kepingan puzzle yang hilang dalam strategi hilirisasi nasional. Program hilirisasi yang diinisiasi pemerintah bertujuan agar Indonesia tidak lagi mengekspor bahan mentah, melainkan produk setengah jadi atau produk jadi yang memiliki nilai jual tinggi.

Namun, industri hilirisasi memerlukan kepastian pasokan dan kepastian harga agar investasi yang ditanamkan dapat kembali dengan aman. Tanpa adanya bursa yang mengatur harga secara domestik, para investor di sektor hilirisasi akan selalu dihantui oleh volatilitas harga global yang tidak terprediksi.

Dengan adanya Bursa Mineral, integrasi antara sektor hulu (pertambangan) dan sektor hilir (pengolahan/smelter) dapat berjalan lebih harmonis. Perusahaan tambang dapat menjual hasil produksinya kepada perusahaan smelter melalui mekanisme pasar yang transparan di dalam negeri, yang pada akhirnya akan memperkuat rantai pasok industri nasional.

Tantangan dalam Implementasi

Meskipun visi ini sangat mulia dan strategis, perjalanan menuju pembentukan Bursa Mineral tentu tidak tanpa hambatan. Para pengamat ekonomi dan energi mencatat beberapa tantangan utama yang harus dihadapi oleh pemerintah dan Kementerian ESDM: