DWJ Manajement - PORTAL

BEI Hapus Harga MInimum Saham, Lo Kheng Hong Bilang Begini

Oleh: DWJ-Manajement 24 Sep 2026
BEI Hapus Harga MInimum Saham, Lo Kheng Hong Bilang Begini

Reaksi Lo Kheng Hong: Fokus pada Nilai, Bukan Sekadar Harga

Pengumuman ini tentu langsung memicu reaksi dari berbagai kalangan, termasuk sang investor legendaris, Lo Kheng Hong. Dikenal sebagai "Warren Buffett Indonesia", Lo Kheng Hong selalu memiliki pandangan yang khas dalam melihat pergerakan pasar modal.

Merespons kebijakan ini, Lo Kheng Hong menekankan bahwa perubahan angka di papan perdagangan tidak akan mengubah prinsip dasar dalam berinvestasi. Menurutnya, bagi seorang investor nilai (value investor), harga saham hanyalah angka yang mencerminkan apa yang bersedia dibayar oleh pasar, namun tidak selalu mencerminkan nilai intrinsik sebuah perusahaan.

Filosofi Investasi di Tengah Perubahan Aturan

Lo Kheng Hong mengingatkan para investor, terutama kaum ritel, agar tidak terjebak dalam euforia atau ketakutan akibat perubahan aturan ini. Ia menyampaikan beberapa poin penting yang harus diperhatikan investor dalam menghadapi era saham Rp1 ini:

Kualitas Perusahaan Tetap Utama: Penurunan harga saham hingga Rp1 bukan berarti saham tersebut menjadi "murah" secara investasi. Murah harus dibarengi dengan kualitas fundamental perusahaan yang baik.

Waspada Spekulasi Berlebih: Dengan adanya harga Rp1, risiko volatilitas tinggi pada saham-saham "gorengan" akan semakin besar. Investor harus mampu membedakan mana saham yang layak koleksi dan mana yang hanya sekadar alat spekulasi.

Pentingnya Analisis Fundamental: Di era baru ini, kemampuan membaca laporan keuangan akan menjadi pembeda utama antara investor yang sukses dan mereka yang sekadar ikut-ikutan tren.

Bagi Lo Kheng Hong, kebijakan ini justru menjadi pengingat bahwa pasar modal adalah tempat di mana "pemenang" adalah mereka yang mampu melihat nilai di tengah kegaduhan harga. Ia tetap pada prinsipnya: belilah perusahaan yang bagus saat harganya murah, bukan sekadar membeli saham yang harganya rendah secara angka.

Dampak bagi Investor Ritel: Peluang atau Ancaman?