DWJ Manajement - PORTAL

BEI Hapus Minimun Harga Saham, IHSG Anjlok 1%

Oleh: DWJ-Manajement • 28 Sep 2026
BEI Hapus Minimun Harga Saham, IHSG Anjlok 1%

Modernisasi Pasar: Kebijakan ini membawa bursa Indonesia selaras dengan praktik di pasar modal global yang cenderung lebih terbuka terhadap volatilitas harga ekstrem.

Mengapa Likuiditas Menjadi Fokus Utama?

Likuiditas adalah "darah" bagi pasar modal. Sebuah pasar yang sehat adalah pasar di mana pembeli dan penjual dapat bertemu dengan mudah tanpa menyebabkan pergeseran harga yang terlalu ekstrem akibat ketidakseimbangan volume. Selama ini, aturan harga minimum sering kali membuat saham-saham tertentu menjadi tidak likuid. Ketika sebuah saham menyentuh harga minimum, tidak ada lagi pembeli yang bersedia menawar di harga yang lebih rendah, sehingga transaksi terhenti dan investor terjebak dalam posisi rugi.

Dengan menurunkan batas minimum hingga Rp1, BEI berharap dapat memecah kebuntuan tersebut. Investor yang ingin keluar dari posisi saham yang sedang tertekan dapat melakukannya meskipun pada harga yang sangat rendah, sehingga aliran dana di pasar tetap mengalir.

Dampak Terhadap Saham-Saham "Penny Stocks"

Kebijakan ini diprediksi akan berdampak besar pada kelompok saham yang sering disebut sebagai penny stocks atau saham lapis ketiga. Sebelumnya, saham-saham ini sangat rentan terhadap volatilitas yang terbatas karena adanya "lantai" harga. Kini, dengan dihapusnya batas tersebut, saham-saham ini berpotensi mengalami volatilitas yang jauh lebih tinggi.

Di satu sisi, hal ini memberikan peluang bagi spekulan dan trader harian untuk mendapatkan keuntungan dari pergerakan harga yang cepat. Namun, di sisi lain, risiko bagi investor ritel juga meningkat secara signifikan. Saham yang harganya mendekati Rp1 memiliki risiko penurunan nilai yang sangat drastis dalam waktu singkat.

Analisis Pasar: Mengapa IHSG Justru Anjlok Saat Aturan Baru Diumumkan?

Muncul pertanyaan di kalangan pelaku pasar: Mengapa di saat BEI mencoba melakukan langkah pro-likuiditas, IHSG justru mengalami penurunan tajam? Para ahli ekonomi memberikan beberapa perspektif terkait anomali ini.

Pertama, adanya ketidakpastian (uncertainty). Setiap perubahan regulasi yang mendasar selalu membawa periode adaptasi. Investor cenderung bersikap wait and see terhadap dampak jangka panjang dari penghapusan harga minimum ini. Ketidakpastian mengenai bagaimana mekanisme pasar akan merespons harga Rp1 membuat sebagian investor memilih untuk mengurangi eksposur mereka di pasar saham.

Kedua, sentimen makroekonomi yang lebih dominan. Meskipun kebijakan BEI bersifat mikro dan teknis, kondisi makroekonomi global seperti kebijakan suku bunga bank sentral dunia dan ketegangan geopolitik sering kali memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dalam menggerakkan indeks secara keseluruhan. Dalam hal ini, sentimen global nampaknya lebih kuat memengaruhi IHSG dibandingkan antusiasme terhadap kebijakan baru bursa.

Ketiga, potensi peningkatan volatilitas. Penghapusan batas harga minimum dapat memicu perilaku spekulatif yang lebih tinggi. Jika pasar mengantisipasi bahwa saham-saham tertentu akan mengalami volatilitas ekstrem, investor yang konservatif mungkin akan melakukan aksi jual untuk mengamankan modal mereka, yang pada akhirnya ikut menekan indeks.