Bencana Bukan Sekadar Musibah: Mengapa Mitigasi Adalah Investasi Ekonomi, Bukan Beban Anggaran?
Menakar urgensi alokasi anggaran mitigasi bencana guna memutus rantai kerugian ekonomi nasional yang terus membengkak setiap tahunnya.
Indonesia, secara geografis, berdiri di atas wilayah yang sangat rentan terhadap berbagai jenis bencana alam, mulai dari gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, hingga bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Selama ini, narasi yang berkembang di masyarakat maupun pengambil kebijakan seringkali menitikberatkan pada aspek kemanusiaan dan penanganan darurat saat bencana terjadi.
Namun, ada satu dimensi krusial yang sering terabaikan dalam diskusi publik: dimensi ekonomi. Bencana bukan lagi sekadar peristiwa alam yang memicu empati, melainkan telah menjelma menjadi beban ekonomi yang sangat serius bagi stabilitas fiskal negara. Ketika bencana melanda, yang hancur bukan hanya infrastruktur fisik, melainkan juga sendi-sendi produktivitas nasional yang berujung pada perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Lingkaran Setan: Bencana dan Kerugian Ekonomi Riil
Setiap kali bencana skala besar melanda, negara dipaksa untuk melakukan pengalihan anggaran secara mendadak. Dana yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur produktif, peningkatan kualitas pendidikan, atau penguatan sektor kesehatan, harus segera dialihkan untuk dana darurat, bantuan logistik, dan rekonstruksi pascabencana.
Kerugian ekonomi akibat bencana dapat dikategorikan ke dalam dua jenis utama:
Kerugian Langsung (Direct Loss): Mencakup kerusakan fisik pada aset-aset negara dan masyarakat, seperti bangunan rumah, sekolah, rumah sakit, jalan raya, jembatan, serta fasilitas umum lainnya.
Kerugian Tidak Langsung (Indirect Loss): Mencakup hilangnya produktivitas akibat lumpuhnya aktivitas ekonomi, terputusnya rantai pasok (supply chain), gangguan pada sektor pariwisata, hingga dampak jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia akibat hilangnya nyawa atau gangguan kesehatan kronis.
Secara makro, jika kerugian ini terus berulang tanpa adanya langkah preventif yang kuat, maka Indonesia akan terjebak dalam "lingkaran setan" fiskal. Negara terus-menerus menghabiskan modal untuk memulihkan apa yang sudah ada, alih-alih membangun sesuatu yang baru untuk kemajuan ekonomi.