Dukungan Subsidi yang Agresif: Pemerintah Thailand dan Vietnam memberikan dukungan subsidi yang sangat kuat dan tepat sasaran, baik dalam bentuk bantuan alat mesin pertanian (alsintan), teknologi, maupun insentif langsung kepada petani.
Riset dan Pengembangan Benih: Inovasi benih unggul yang memiliki masa tanam lebih pendek dan produktivitas tinggi memungkinkan mereka melakukan panen lebih sering dalam setahun.
Dengan kondisi tersebut, beras dari Vietnam dan Thailand dapat masuk ke pasar global dengan harga yang sangat kompetitif, bahkan seringkali lebih murah dibandingkan beras lokal Indonesia. Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin pasar domestik kita justru akan dibanjiri oleh produk impor yang lebih murah, yang pada akhirnya akan memukul kesejahteraan petani lokal.
Dilema Subsidi: Antara Keterbatasan Anggaran dan Kebutuhan Petani
Mentan Amran Sulaiman menjelaskan bahwa rendahnya nilai subsidi yang diterima petani Indonesia menjadi salah satu penghambat utama. Meskipun pemerintah terus berupaya memberikan bantuan, namun jika dibandingkan dengan beban biaya produksi yang terus melonjak akibat inflasi dan kenaikan harga input global, subsidi tersebut dirasa belum cukup untuk mengompensasi biaya yang dikeluarkan petani.
Kesenjangan antara biaya yang dikeluarkan petani dengan harga jual yang layak merupakan masalah klasik yang terus berulang. Di satu sisi, pemerintah ingin menjaga harga beras agar tetap terjangkau bagi konsumen (terutama masyarakat kelas bawah), namun di sisi lain, pemerintah harus memastikan petani mendapatkan keuntungan yang cukup agar mereka tetap termotivasi untuk menanam padi.
Rendahnya subsidi ini berdampak pada beberapa hal berikut:
Ketergantungan pada Pupuk Non-Subsidi: Ketika stok pupuk bersubsidi terbatas atau distribusinya tidak merata, petani terpaksa membeli pupuk nonsubsidi yang harganya jauh lebih mahal.
Lambatnya Adopsi Teknologi: Tanpa subsidi yang kuat untuk pengadaan alat mesin pertanian, petani kecil akan sulit untuk melakukan modernisasi pertanian.
Penurunan Minat Bertani: Margin keuntungan yang tipis membuat profesi petani dianggap tidak menjanjikan bagi generasi muda, yang berisiko pada krisis regenerasi petani di masa depan.