Ketidakpastian Geopolitik Global yang Kian Memanas
Selain faktor suku bunga, BI juga menyoroti eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia sebagai faktor penekan. Konflik di Timur Tengah dan ketegangan perdagangan antara kekuatan ekonomi besar dunia menciptakan volatilitas yang sangat tinggi di pasar keuangan.
Ketika ketegangan meningkat, sentimen risiko (risk-off) di pasar global cenderung meningkat. Dalam kondisi ini, pelaku pasar akan menghindari aset-aset berisiko tinggi seperti saham atau mata uang negara berkembang, dan lebih memilih menyimpan kekayaan mereka dalam bentuk dolar AS atau emas. Tekanan jual pada rupiah meningkat seiring dengan meningkatnya ketakutan pasar terhadap potensi krisis global yang lebih luas.
Respon Bank Indonesia: Strategi Intervensi dan Stabilitas Moneter
Menghadapi situasi di mana dolar AS menembus angka Rp18.000, Bank Indonesia menegaskan bahwa mereka tidak tinggal diam. BI telah menyiapkan berbagai instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap berada dalam koridor yang wajar dan tidak mengganggu stabilitas sistem keuangan.
BI menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah menjaga agar volatilitas nilai tukar tidak berdampak terlalu ekstrem terhadap inflasi domestik dan biaya produksi sektor riil. Untuk mencapai hal tersebut, BI menerapkan strategi intervensi yang komprehensif.
Mekanisme Intervensi "Triple Intervention"
Bank Indonesia terus menjalankan kebijakan intervensi di berbagai instrumen pasar untuk memastikan likuiditas dolar di dalam negeri tetap terjaga dan tekanan terhadap rupiah dapat diredam. Langkah-langkah tersebut meliputi:
Intervensi di Pasar Spot: BI melakukan pembelian rupiah melalui pasar spot untuk meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik secara langsung.
Intervensi di Pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF): Langkah ini diambil untuk mengelola ekspektasi pasar terhadap nilai tukar rupiah di masa depan, guna memitigasi spekulasi yang berlebihan.
Intervensi di Pasar Surat Berharga Negara (SBN): BI juga aktif menjaga stabilitas pasar obligasi pemerintah agar imbal hasil (yield) SBN tetap menarik bagi investor asing, sehingga mencegah aliran modal keluar (capital outflow) yang lebih masif.