DWJ Manajement - PORTAL

BI Tak Mau Lagi Bank "Tumpuk" Obligasi, Destry Mau Lakukan Ini

Oleh: DWJ-Manajement 31 Jul 2026
BI Tak Mau Lagi Bank "Tumpuk" Obligasi, Destry Mau Lakukan Ini

BI Tak Ingin Bank Hanya 'Main Aman' Tumpuk Obligasi, Destry Damayanti Dorong Fokus ke Sektor Riil

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal kuat kepada industri perbankan nasional untuk mengubah strategi pengelolaan likuiditas mereka. Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa perbankan tidak boleh lagi terjebak dalam kebiasaan akumulasi aset yang minim dampak ekonomi, seperti menumpuk obligasi, melainkan harus mulai mengalihkan fokus pada pembiayaan sektor riil.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya strategis Bank Indonesia untuk memastikan bahwa likuiditas yang tersedia di sistem perbankan benar-benar tersalurkan untuk menggerakkan roda ekonomi nasional. BI melihat adanya kecenderungan perbankan yang memilih jalur "aman" dengan menempatkan dana mereka pada instrumen surat utang pemerintah atau korporasi dibandingkan menyalurkan kredit produktif.

Fenomena Penumpukan Obligasi: Mengapa Menjadi Perhatian BI?

Dalam beberapa periode terakhir, terlihat tren di mana perbankan memiliki porsi aset yang cukup besar pada instrumen obligasi. Meskipun instrumen ini dianggap aman dan memberikan imbal hasil yang stabil, penumpukan aset di sektor sekunder ini dianggap tidak memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Destry Damayanti menekankan bahwa fungsi utama perbankan dalam sistem ekonomi adalah sebagai intermediasi. Artinya, bank seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan pemilik dana dengan pelaku usaha yang membutuhkan modal untuk ekspansi. Ketika dana tersebut hanya berputar di pasar surat utang, maka aliran modal ke sektor-sektor produktif menjadi terhambat.

Dampak Minimnya Penyaluran Kredit ke Sektor Riil

Jika perbankan terus memilih untuk menumpuk obligasi, terdapat sejumlah risiko jangka panjang bagi stabilitas ekonomi makro, di antaranya:

Pertumbuhan Ekonomi Melambat: Tanpa kucuran kredit yang masif ke sektor produksi, kapasitas output nasional sulit untuk meningkat secara signifikan.

Rendahnya Penyerapan Tenaga Kerja: Sektor riil, seperti manufaktur dan UMKM, adalah penyerap tenaga kerja terbesar. Tanpa pembiayaan, ekspansi usaha akan terhambat, yang berujung pada stagnasi lapangan kerja.

Ketimpangan Pertumbuhan: Ekonomi yang hanya digerakkan oleh pasar keuangan cenderung bersifat volatil dan tidak menyentuh lapisan masyarakat bawah secara langsung.

Strategi Destry Damayanti: Mengarahkan Likuiditas ke Sektor Produktif