DWJ Manajement - PORTAL

BI Tak Mau Lagi Bank "Tumpuk" Obligasi, Destry Mau Lakukan Ini

Oleh: DWJ-Manajement 31 Jul 2026
BI Tak Mau Lagi Bank "Tumpuk" Obligasi, Destry Mau Lakukan Ini

Gubernur BI Destry Damayanti menekankan bahwa arah kebijakan moneter dan makroprudensial ke depan akan lebih diarahkan untuk memberikan insentif bagi bank yang mampu menyalurkan kredit ke sektor-sektor strategis. BI ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang beredar di sistem perbankan memiliki peran nyata dalam meningkatkan produktivitas nasional.

Sektor riil yang dimaksud mencakup berbagai bidang krusial, mulai dari industri pengolahan, pertanian, hingga sektor jasa yang memiliki nilai tambah tinggi. BI berharap perbankan dapat lebih proaktif dalam melakukan penilaian risiko (risk assessment) agar mereka tetap bisa menyalurkan kredit dengan prudent namun tetap agresif di sektor yang tepat.

Sektor-Sektor Prioritas yang Perlu Disentuh Perbankan

Untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi, terdapat beberapa sektor yang diharapkan menjadi fokus utama perbankan dalam penyaluran kreditnya:

Manufaktur dan Industri Pengolahan: Sebagai tulang punggung ekonomi untuk menciptakan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM): Sebagai bantalan ekonomi nasional yang memiliki daya serap tenaga kerja sangat tinggi.

Infrastruktur dan Energi Terbarukan: Untuk mendukung konektivitas nasional dan transisi energi hijau yang berkelanjutan.

Pertanian dan Ketahanan Pangan: Mengingat stabilitas pangan adalah kunci stabilitas inflasi dan sosial.

Tantangan Perbankan dalam Menghadapi Pergeseran Fokus

Meski arahan BI sudah sangat jelas, industri perbankan menghadapi tantangan tersendiri dalam mengalihkan fokus dari obligasi ke sektor riil. Salah satu kendala utama adalah manajemen risiko. Investasi pada obligasi menawarkan profil risiko yang sangat terukur dengan volatilitas yang relatif rendah dibandingkan dengan penyaluran kredit ke pelaku usaha di sektor riil.

Selain itu, kualitas aset menjadi perhatian utama. Perbankan harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam lonjakan Non-Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah saat mereka mulai lebih agresif menyalurkan pinjaman. Oleh karena itu, digitalisasi sistem manajemen risiko dan peningkatan kapabilitas analisis kredit menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi bagi perbankan saat ini.

Mengapa Bank Memilih Obligasi?

Secara fundamental, ada beberapa alasan mengapa fenomena "tumpuk obligasi" ini terjadi: