Kepastian Yield: Obligasi memberikan pendapatan bunga (coupon) yang pasti dan terjadwal.
Likuiditas Tinggi: Surat utang sangat mudah diperjualbelikan di pasar sekunder jika bank membutuhkan dana cepat.
Profil Risiko Rendah: Terutama untuk obligasi negara, risiko gagal bayar hampir mendekati nol, sehingga menjaga rasio kecukupan modal (CAR) tetap aman.
Peran Kebijakan Makroprudensial BI ke Depan
Untuk menjembatani keinginan BI dan realitas di lapangan, BI diprediksi akan semakin memperkuat instrumen kebijakan makroprudensial. Salah satu langkah yang mungkin diambil adalah memberikan insentif berupa pelonggaran Giro Wajib Minimum (GWM) bagi bank-bank yang menunjukkan pertumbuhan kredit yang sehat di sektor-sektor prioritas.
Dengan kebijakan ini, bank yang aktif membiayai sektor riil akan memiliki fleksibilitas likuiditas yang lebih besar dibandingkan bank yang hanya pasif memegang obligasi. Ini merupakan bentuk "permainan" kebijakan yang dirancang agar perbankan merasa lebih menguntungkan secara bisnis jika mereka bergerak ke arah yang diinginkan regulator.
Sinergi antara Kebijakan Moneter dan Fiskal
Langkah Destry Damayanti ini juga tidak berdiri sendiri. Keberhasilan peralihan fokus perbankan ini sangat bergantung pada sinergi antara kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan fiskal pemerintah. Pemerintah perlu memastikan iklim investasi di sektor riil tetap kondusif agar risiko kredit yang diambil oleh perbankan dapat termitigasi dengan baik oleh pertumbuhan bisnis yang sehat.
Kesimpulan
Pernyataan tegas Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjadi pengingat penting bagi industri perbankan bahwa peran mereka jauh lebih besar daripada sekadar pengelola aset di pasar keuangan. Mengakumulasi obligasi mungkin memberikan keamanan jangka pendek bagi neraca bank, namun menggerakkan sektor riil adalah kunci bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang inklusif.
Ke depan, tantangan bagi perbankan adalah bagaimana menyeimbangkan antara prinsip kehati-hatian (prudence) dengan keberanian untuk menyalurkan kredit produktif. Dengan dukungan kebijakan makroprudensial yang tepat dari BI, diharapkan arus modal dapat mengalir lebih deras ke jantung ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing Indonesia di kancah global.