DWJ Manajement - PORTAL

Bisakah Bensin Dibuat dari Batu Bara Sesuai Keinginan Prabowo?

Oleh: DWJ-Manajement 22 Sep 2026
Bisakah Bensin Dibuat dari Batu Bara Sesuai Keinginan Prabowo?

Tantangan Besar: Lingkungan, Biaya, dan Transisi Energi

Meskipun menjanjikan secara ekonomi dan kemandirian energi, jalan menuju implementasi CTL tidaklah mulus. Ada tantangan fundamental yang harus dijawab oleh pemerintah jika ingin mewujudkan keinginan tersebut.

Pertama adalah masalah lingkungan. Di tengah tekanan global untuk melakukan transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE), penggunaan batu bara sebagai bahan bakar utama sering kali dipandang kontradiktif. Proses gasifikasi dan pengolahan batu bara melepaskan emisi karbon dioksida (CO2) yang sangat besar ke atmosfer. Jika Indonesia ingin menjalankan teknologi ini, maka teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) atau penangkapan dan penyimpanan karbon harus menjadi syarat mutlak agar tidak merusak komitmen iklim internasional.

Kedua, tantangan ekonomi berupa tingginya biaya modal (Capital Expenditure). Pembangunan fasilitas CTL memerlukan investasi triliunan rupiah dengan waktu pengembalian modal (payback period) yang cukup lama. Tanpa skema pendanaan yang kuat dan kepastian regulasi dari pemerintah, investor akan sangat berhati-hati untuk masuk ke sektor ini.

Ketiga adalah kesiapan teknologi dan sumber daya manusia. Meskipun teknologinya sudah ada, mengoperasikan pabrik CTL membutuhkan keahlian teknik tingkat tinggi yang mungkin masih perlu ditingkatkan melalui transfer teknologi dari negara-negara maju.

Menyeimbangkan Ambisi dan Realita

Dalam menyikapi wacana ini, pemerintah perlu melakukan studi kelayakan yang komprehensif. Hilirisasi batu bara menjadi bensin tidak boleh dilakukan secara gegabah tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan jangka panjang. Integrasi antara teknologi CTL dengan teknologi ramah lingkungan seperti CCS akan menjadi kunci agar kebijakan ini tidak menjadi bumerang bagi citra lingkungan Indonesia di mata dunia.

Selain itu, sinkronisasi antara kebijakan hilirisasi batu bara dengan peta jalan transisi energi nasional harus dijaga agar tidak terjadi tumpang tindih kepentingan yang justru dapat menghambat investasi energi terbarukan lainnya seperti surya, angin, maupun panas bumi.

Kesimpulan

Secara teknis, mengubah batu bara menjadi bensin melalui teknologi Coal-to-Liquid (CTL) adalah hal yang sangat mungkin dilakukan dan telah terbukti berhasil di beberapa negara. Bagi Indonesia, langkah ini menawarkan peluang emas untuk mencapai kemandirian energi, mengurangi impor BBM, dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam domestik sesuai dengan semangat hilirisasi yang diusung oleh Prabowo Subianto.

Namun, keberhasilan visi ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam mengatasi tiga tantangan utama: mitigasi emisi karbon melalui teknologi penangkapan karbon, penyediaan skema pendanaan yang menarik bagi investor, serta kesiapan infrastruktur teknologi. Jika dikelola dengan bijak, batu bara bukan lagi sekadar komoditas ekspor mentah, melainkan fondasi bagi kedaulatan energi masa depan Indonesia.