BMKG Bongkar Penyebab Utama Banjir Bandang Solok: Curah Hujan Ekstrem 94 mm/Hari Jadi Pemicu Utama
SOLOK – Musibah banjir bandang yang menerjang wilayah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, baru-baru ini memicu kekhawatiran mendalam bagi warga setempat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya memberikan penjelasan teknis mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik bencana alam tersebut.
Berdasarkan data pemantauan satelit dan stasiun pengamatan cuaca, penyebab utama meledaknya volume air yang menjadi banjir bandang tersebut adalah intensitas curah hujan yang sangat tinggi dan ekstrem. BMKG mencatat bahwa wilayah Solok diguyur hujan dengan intensitas mencapai 94 mm per hari, sebuah angka yang masuk dalam kategori curah hujan sangat lebat hingga ekstrem.
Analisis BMKG: Mengapa Curah Hujan 94 mm Sangat Berbahaya?
Curah hujan sebesar 94 mm dalam satu hari bukan sekadar hujan biasa. Dalam terminologi meteorologi, angka tersebut menunjukkan adanya akumulasi air yang luar biasa dalam waktu singkat. Ketika tanah tidak lagi mampu menyerap air (titik jenuh tanah), maka air akan mengalir di permukaan tanah (run-off) dengan kecepatan tinggi.
Di wilayah Kabupaten Solok yang memiliki topografi berbukit dan pegunungan, aliran air ini mengalami percepatan akibat gravitasi. Air yang terkumpul di area hulu kemudian turun ke lembah-lembah dengan membawa material lumpur, kayu, dan bebatuan, yang kemudian berubah menjadi banjir bandang yang destruktif saat mencapai pemukiman warga.
BMKG menjelaskan bahwa kondisi ini diperparah oleh faktor-faktor berikut:
Kejenuhan Tanah: Hujan yang turun secara terus-menerus dalam durasi lama membuat pori-pori tanah tertutup air, sehingga tidak ada lagi ruang untuk infiltrasi.
Topografi Curam: Karakteristik wilayah Solok yang berbukit mempercepat laju aliran permukaan (surface runoff).