DWJ Manajement - PORTAL

BMKG: Hujan Absen di Musim Kemarau Buat Abu Vulkanik Betah di Udara

Oleh: DWJ-Manajement 08 Sep 2026
BMKG: Hujan Absen di Musim Kemarau Buat Abu Vulkanik Betah di Udara

Waspada Polusi Ganda! BMKG Sebut Minimnya Hujan Bikin Abu Vulkanik Anak Krakatau Bertahan di Udara

Fenomena kemarau panjang menyebabkan partikel abu vulkanik dan polusi perkotaan sulit mengendap, meningkatkan risiko gangguan pernapasan di wilayah Jabodetabek.

Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya di kawasan metropolitan seperti Jakarta, kini tengah menjadi sorotan serius. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan mengenai fenomena akumulasi polutan yang kian mengkhawatirkan. Bukan sekadar polusi kendaraan atau industri biasa, kali ini terdapat faktor tambahan yang memperparah keadaan: abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Menurut penjelasan BMKG, kondisi musim kemarau yang sedang berlangsung saat ini memainkan peran krusial dalam memperburuk kualitas udara. Absennya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir membuat partikel-partikel polutan, termasuk abu vulkanik, "betah" melayang di atmosfer dalam waktu yang jauh lebih lama dari biasanya.

Mekanisme Alam: Mengapa Tanpa Hujan Polusi Semakin Parah?

Secara meteorologis, hujan memiliki peran alami sebagai "pembersih" atmosfer atau yang sering disebut dengan istilah wet deposition. Ketika hujan turun, tetesan air hujan akan jatuh ke bawah dan menangkap partikel-partikel polutan, debu, serta abu yang melayang di udara, kemudian membawanya jatuh ke permukaan tanah.

Namun, saat memasuki puncak musim kemarau, proses pembersihan alami ini terhenti. Tanpa adanya bantuan presipitasi (hujan), partikel-partikel halus seperti PM2.5 (partikel udara dengan diameter kurang dari 2,5 mikrometer) akan tetap tersuspensi di lapisan udara bawah. Hal ini menciptakan kondisi di mana polutan terus bertumpuk dan terakumulasi dari hari ke hari.

Interaksi Abu Vulkanik dan Polusi Perkotaan

Yang membuat situasi saat ini lebih kompleks adalah adanya kontribusi dari aktivitas vulkanik. Gunung Anak Krakatau yang masih aktif secara berkala melepaskan material vulkanik ke atmosfer. Meskipun jarak antara Gunung Anak Krakatau dan Jakarta cukup jauh, pergerakan angin dapat membawa material abu halus tersebut hingga ke wilayah perkotaan yang padat penduduk.

BMKG menyoroti bahwa abu vulkanik ini tidak berdiri sendiri. Di wilayah seperti Jakarta, abu vulkanik tersebut bercampur dengan polusi hasil emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, dan pembakaran sampah. Campuran antara material vulkanik yang bersifat abrasif dengan polutan kimia dari asap kendaraan menciptakan "koktail" udara yang sangat tidak sehat bagi manusia.

Dampak Kesehatan: Ancaman di Balik Langit Abu-abu

Akumulasi polutan yang tinggi ini bukan sekadar masalah estetika yang membuat langit terlihat keruh atau berwarna abu-abu. Secara medis, ini adalah ancaman kesehatan yang nyata. Partikel PM2.5 yang bercampur dengan abu vulkanik memiliki ukuran yang sangat kecil sehingga mampu menembus jauh ke dalam sistem pernapasan manusia, bahkan hingga ke pembuluh darah.