DWJ Manajement - PORTAL

BMKG: Hujan Absen di Musim Kemarau Buat Abu Vulkanik Betah di Udara

Oleh: DWJ-Manajement 08 Sep 2026
BMKG: Hujan Absen di Musim Kemarau Buat Abu Vulkanik Betah di Udara

Beberapa risiko kesehatan yang perlu diwaspadai antara lain:

Gangguan Saluran Pernapasan Akut: Seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), asma, bronkitis, hingga memperparah kondisi PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).

Iritasi Mata dan Tenggorokan: Abu vulkanik memiliki sifat yang kasar dan dapat menyebabkan iritasi fisik pada selaput lendir mata dan tenggorokan.

Dampak Kardiovaskular: Paparan jangka panjang terhadap partikel halus dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke karena partikel tersebut dapat masuk ke sistem sirkulasi darah.

Risiko pada Kelompok Rentan: Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan kondisi medis bawaan memiliki risiko yang jauh lebih tinggi terhadap dampak polusi ini.

Mengapa Kita Tidak Bisa Mengandalkan Angin Semata?

Banyak masyarakat berharap angin kencang akan membantu menyapu polusi. Namun, BMKG menjelaskan bahwa pada kondisi musim kemarau tertentu, sering kali terjadi fenomena inversi suhu. Inversi suhu adalah kondisi di mana lapisan udara hangat berada di atas lapisan udara dingin, yang justru bertindak seperti "tutup" yang memerangkap polutan di dekat permukaan tanah.

Dalam kondisi inversi ini, meskipun ada angin, polutan tidak akan terbawa naik ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi, melainkan hanya bergerak secara horizontal di ketinggian rendah tempat manusia bernapas. Hal inilah yang menyebabkan konsentrasi polusi tetap tinggi meski di siang hari yang terik sekalipun.

Langkah Mitigasi: Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?

Menghadapi kondisi kualitas udara yang buruk akibat kombinasi kemarau dan abu vulkanik, diperlukan langkah-langkah preventif dari masyarakat untuk meminimalkan paparan. Berikut adalah beberapa langkah yang disarankan oleh para ahli kesehatan dan meteorologi: