DWJ Manajement - PORTAL

Bos BI Ramal Fed Fund Rate Bakal Naik Lagi

Oleh: DWJ-Manajement 23 Sep 2026
Bos BI Ramal Fed Fund Rate Bakal Naik Lagi

Tekanan pada Nilai Tukar Rupiah

Salah satu dampak paling langsung adalah tekanan terhadap nilai tukar Rupiah. Ketika suku bunga AS naik, daya tarik aset keuangan dalam denominasi Dollar AS meningkat karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi dengan risiko yang relatif lebih rendah. Hal ini dapat memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang (capital outflow) menuju Amerika Serikat. Jika aliran modal keluar terjadi secara masif, maka permintaan terhadap Dollar akan melonjak, yang pada akhirnya akan menekan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS.

Pelemahan Rupiah yang terlalu tajam dapat memicu imported inflation atau inflasi barang impor. Perusahaan-perusahaan dalam negeri yang mengandalkan bahan baku impor akan mengalami kenaikan biaya produksi, yang pada akhirnya akan dibebankan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga produk akhir.

Implikasi Terhadap Suku Bunga Domestik

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi, Bank Indonesia kemungkinan besar harus merespons dengan kebijakan moneter yang serupa. Jika FFR naik, BI perlu menjaga selisih suku bunga (interest rate differential) agar tetap kompetitif. Hal ini berarti ada kemungkinan BI akan ikut menaikkan suku bunga acuan atau setidaknya mempertahankan suku bunga di level yang tinggi lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

Kenaikan suku bunga domestik ini tentu memiliki konsekuensi pada sektor riil, di antaranya:

Biaya Pinjaman Meningkat: Suku bunga kredit perbankan (KPR, kredit kendaraan, hingga kredit modal kerja) cenderung akan naik.

Tekanan pada Daya Beli: Masyarakat akan memiliki beban cicilan yang lebih tinggi, yang dapat menurunkan konsumsi rumah tangga.

Penurunan Investasi: Biaya modal yang lebih mahal dapat membuat perusahaan menunda ekspansi bisnis mereka.

Strategi Bank Indonesia Menghadapi Turbulensi Global