Sektor logistik dan maritim juga akan mendapatkan giliran. Pelindo, setelah melalui proses merger besar-besaran, kini berdiri sebagai kekuatan tunggal pengelola pelabuhan di Indonesia. Rencana IPO Pelindo dianggap sebagai langkah strategis untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur pelabuhan yang membutuhkan belanja modal (Capex) sangat besar.
Dengan status sebagai perusahaan publik, Pelindo diharapkan dapat mengadopsi standar operasional kelas dunia. Transparansi yang dibawa oleh pasar modal akan membantu Pelindo dalam mengelola arus logistik nasional secara lebih efektif, yang pada akhirnya akan menurunkan biaya logistik nasional yang selama ini masih tergolong tinggi dibanding negara-negara tetangga di ASEAN.
Injourney: Menjadikan Pariwisata Indonesia Kelas Dunia
Sektor pariwisata dan pendukungnya, yang dikelola melalui Holding Injourney, juga masuk dalam radar IPO. Injourney yang menaungi berbagai aset wisata ikonik seperti Borobudur, Ancol, hingga jaringan hotel-hotel negara, memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar seiring dengan bangkitnya sektor pariwisata pascapandemi.
Melalui IPO, Injourney dapat memperkuat ekosistem pariwisatanya, mulai dari pengembangan destinasi super prioritas hingga peningkatan kualitas layanan hospitality. Investor akan melihat Injourney sebagai kendaraan investasi yang unik, mengingat aset-aset yang dimiliki merupakan aset strategis yang sulit direplikasi oleh pihak swasta.
Mengapa BUMN Harus Melantai di Bursa?
Keputusan untuk membawa BUMN ke pasar modal bukanlah tanpa alasan. Terdapat beberapa faktor fundamental yang mendasari mengapa langkah ini menjadi prioritas bagi Danantara dan pemerintah:
Akses Permodalan yang Lebih Luas: IPO memungkinkan perusahaan mendapatkan pendanaan jangka panjang dengan biaya modal yang relatif lebih kompetitif dibandingkan utang bank.
Peningkatan Transparansi dan Tata Kelola (GCG): Menjadi perusahaan publik mewajibkan BUMN untuk mengikuti standar pelaporan keuangan yang ketat dan diaudit secara berkala, sehingga meminimalisir risiko praktik korupsi atau inefisiensi.
Valuasi Perusahaan yang Lebih Akurat: Melalui mekanisme pasar, nilai riil dari aset dan kinerja BUMN dapat diukur secara objektif oleh pasar, yang memberikan dasar kuat untuk ekspansi bisnis di masa depan.
Reduksi Beban APBN: Dengan kemampuan mandiri dalam mencari pendanaan melalui pasar modal, pemerintah dapat mengalihkan alokasi APBN untuk sektor-sektor sosial lainnya seperti pendidikan dan kesehatan.